Sejak Era Walisongo, Para Ulama Selalu Inovatif dalam Berdakwah
Muhajirin
Kamis, 19 Agustus 2021 - 16:08 WIB
Masjid Menara Kudus yang merupakan salah satu jejak peninggalan dakwah Wali Songo (foto: Wikipedia)
Salah satu kelebihan ulama di Nusantara adalah memiliki terobosan inovatif dalam berdakwah. Dalam konteks sejarah pesantren di Indonesia yang mengakar sejak era Walisongo, para kiai selalu inovatif, baik dalam pendidikan maupun dakwah. Mereka selalu menyesuaikan metode dakwah dengan kebutuhan zaman.
Atas alasan itu pula, eksistensi pesantren sampai sekarang masih terjaga dalam pendidikan dan memberdayakan masyarakat. Inovasi tersebut seperti yang terjadi menjelang 1945 di bidang pendidikan dengan menggunakan sistem madrasah. Sedang pasca kemerdekaan, para kiai memasukkan kurikulum negeri, mendirikan kampus, hingga Ma’had Aly.
“Hal tersebut menjadi bukti sejarah bahwa para ulama terdahulu berperan besar sebagai mujtahid di bidang pendidikan, sosial, dan kultur,” kata Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, dikutip laman NU Jawa Timur, Kamis (19/8/2021).
Hal serupa dilakukan oleh para kiai pesantren pada masa pandemi saat ini. Mereka terus berinovasi dan beradaptasi dengan perangkat teknologi digital. Bahkan, penggunaan teknologi menjadi prioritas dalam berdakwah.
Para ulama saat ini tidak hanya berdakwah dari masjid ke masjid. Namun memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan syiar Islam ke tengah masyarakat. Hal itu dilakukan agar dapat melewati pandemi dengan baik dan tetap bisa memberi pengajaran kepada umat.
“Sebagaimana yang dicontohkan oleh KH Anwar Mansur Lirboyo dengan pengajian kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi,” ucap Gus Rijal.
Pandemi bukan waktu untuk mengeluhkan kondisi, menyalahkan keadaan, memaki pengambil kebijakan, hingga menuntut takdir Allah Ta’ala. Namun, pandemi menjadi wadah untuk terus berinovasi dan berkreasi seperti yang dicontohkan oleh para ulama.
Atas alasan itu pula, eksistensi pesantren sampai sekarang masih terjaga dalam pendidikan dan memberdayakan masyarakat. Inovasi tersebut seperti yang terjadi menjelang 1945 di bidang pendidikan dengan menggunakan sistem madrasah. Sedang pasca kemerdekaan, para kiai memasukkan kurikulum negeri, mendirikan kampus, hingga Ma’had Aly.
“Hal tersebut menjadi bukti sejarah bahwa para ulama terdahulu berperan besar sebagai mujtahid di bidang pendidikan, sosial, dan kultur,” kata Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, dikutip laman NU Jawa Timur, Kamis (19/8/2021).
Hal serupa dilakukan oleh para kiai pesantren pada masa pandemi saat ini. Mereka terus berinovasi dan beradaptasi dengan perangkat teknologi digital. Bahkan, penggunaan teknologi menjadi prioritas dalam berdakwah.
Para ulama saat ini tidak hanya berdakwah dari masjid ke masjid. Namun memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan syiar Islam ke tengah masyarakat. Hal itu dilakukan agar dapat melewati pandemi dengan baik dan tetap bisa memberi pengajaran kepada umat.
“Sebagaimana yang dicontohkan oleh KH Anwar Mansur Lirboyo dengan pengajian kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi,” ucap Gus Rijal.
Pandemi bukan waktu untuk mengeluhkan kondisi, menyalahkan keadaan, memaki pengambil kebijakan, hingga menuntut takdir Allah Ta’ala. Namun, pandemi menjadi wadah untuk terus berinovasi dan berkreasi seperti yang dicontohkan oleh para ulama.