LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu kelebihan ulama di Nusantara adalah memiliki terobosan inovatif dalam berdakwah. Dalam konteks sejarah pesantren di Indonesia yang mengakar sejak era Walisongo, para kiai selalu inovatif, baik dalam pendidikan maupun dakwah. Mereka selalu menyesuaikan metode dakwah dengan kebutuhan zaman.
Atas alasan itu pula, eksistensi pesantren sampai sekarang masih terjaga dalam pendidikan dan memberdayakan masyarakat. Inovasi tersebut seperti yang terjadi menjelang 1945 di bidang pendidikan dengan menggunakan sistem madrasah. Sedang pasca kemerdekaan, para kiai memasukkan kurikulum negeri, mendirikan kampus, hingga Ma’had Aly.
“Hal tersebut menjadi bukti sejarah bahwa para ulama terdahulu berperan besar sebagai mujtahid di bidang pendidikan, sosial, dan kultur,” kata Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, dikutip laman NU Jawa Timur, Kamis (19/8/2021).
Hal serupa dilakukan oleh para kiai pesantren pada masa pandemi saat ini. Mereka terus berinovasi dan beradaptasi dengan perangkat teknologi digital. Bahkan, penggunaan teknologi menjadi prioritas dalam berdakwah.
Para ulama saat ini tidak hanya berdakwah dari masjid ke masjid. Namun memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan syiar Islam ke tengah masyarakat. Hal itu dilakukan agar dapat melewati pandemi dengan baik dan tetap bisa memberi pengajaran kepada umat.
“Sebagaimana yang dicontohkan oleh KH Anwar Mansur Lirboyo dengan pengajian kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi,” ucap Gus Rijal.
Pandemi bukan waktu untuk mengeluhkan kondisi, menyalahkan keadaan, memaki pengambil kebijakan, hingga menuntut takdir Allah Ta’ala. Namun, pandemi menjadi wadah untuk terus berinovasi dan berkreasi seperti yang dicontohkan oleh para ulama.
Mbah Wahab dan NasionalismeGus Rijal mencontohkan sosok KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai salah satu sosok ulama yang patut menjadi model inovatif. Dia menjelaskan, ada dua hal yang mesti ditelaah berkaitan dengan nasionalisme.
Pertama, ekstrim kiri, yakni mereka yang memiliki unsur patriotisme yang terlampau tinggi, sehingga menyebabkan sikap chauvinistik yang dapat berpotensi sikap pada fasisme. Hal ini merupakan bentuk kecintaan terhadap ras, bangsa, dan negara yang terlalu tinggi sehingga menganggap yang lainnya layak dijajah.
Kedua adalah ekstrim kanan, yakni mereka yang menganggap cinta tanah air adalah hal yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya, sehingga mereka cenderung bersikap pragmatisme. Hal tersebut membuatnya tidak peduli dengan negara dan bahkan meninggalkannya.
“Dua hal tersebut sangat berbahaya. Dan saya menemukan sisi unik dari nasionalisme yang dicontohkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dalam hubbul wathon minal iman yang dicetuskannya,” kata Gus Rijal.
Sebelum Indonesia merdeka, Mbah Wahab yang menjadi aktivis serikat Islam, sepulang dari Makkah mendirikan madrasah yang dinamakan Nahdlatul Wathan.
Kemudian, ia pun menggerakan beberapa pemuda untuk dikader sebagai da’i yang tergabung Lajnatun Nashikhin. Hingga kemudian diubah menjadi Syubbanul Wathan, dan akhirnya menjadi organisasi Nahdlatul Ulama.
Tujuan merintis madrasah tersebut sebagai tempat kaderisasi anak usia belia dan remaja. Sebab, Mbah Wahab meyakini merekalah nanti yang akan mengisi pos-pos tertentu setelah kemerdekaan.
“Dua dekade setelahnya hal tersebut terbukti dengan munculnya beberapa madrasah dan organisasi yang menyematkan nama ‘Wathan’ di belakang namanya, seperti madrasah Al-Wathaniyah dan Nahdlatul Wathan,” tuturnya.
Langkah-langkah tersebut untuk mempersatukan asumsi, bahwa selain memiliki sikap patriotisme dalam mengikat cita-cita kemerdekaan, para ulama juga memiliki rasa cinta tanah air dengan melekatkan istilah ‘wathan’ di madrasah dan organisasi yang didirikan.
(jqf)