Sejarah Masjid Luar Batang dan Mitos Jenazah Habib Keramat Hilang
Fajar adhitya
Kamis, 19 Agustus 2021 - 17:00 WIB
Masjid Luar Batang Penjaringan Jakarta Utara. (Foto: Istimewa).
Masjid Jami Luar Batang merupakan salah satu masjid yang akan direvitalisasi Pemprov DKI Jakarta sebagai tujuan wisata religi. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Luar Batang, Gang V Nomor 1, Kelurahan Penjaringan.
Dikutip dari laman www.jakarta-tourism.go.id, masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, bernama Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Dia tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736.
Bersama asistennya yang keturunan China, yaitu Habib Abdul Kadir, Habib Husein berdakwah sambil mengajar mengaji di pesisir utara Batavia. Seperti umumnya ulama-ulama saat itu, Habib Husein pun menentang kehadiran Belanda di tanah Batavia. Dia bahkan sempat merasakan dinginnya sel penjara karena sikapnya itu.
BACA JUGA: Masjid Istiqlal Kembali Buka untuk Shalat Jumat Besok
Pada 1739, dia dengan dibantu masyarakat Sunda Kelapa membangun sebuah langgar atau surau di atas tanah yang dihibahkan seorang warga di Kampung Baru. Bangunan langgar atau mushala bergaya khas Betawi seluas 6 meter persegi itu selesai dibangun pada 20 Muharram 1152 Hijriah atau 29 April 1739.
Habib Husein menamainya Langgar Annur yang artinya cahaya. Kelak langgar ini diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapat hibah lahan cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.
Lahan masjid berbatasan dengan tembok utara kota lama Batavia serta berdekatan dengan gudang rempah perusahaan dagang Belanda, VOC dan Pasar Ikan. Bangunan gudang rempah itu sekarang dikenal sebagai Museum Bahari.
Dikutip dari laman www.jakarta-tourism.go.id, masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, bernama Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Dia tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736.
Bersama asistennya yang keturunan China, yaitu Habib Abdul Kadir, Habib Husein berdakwah sambil mengajar mengaji di pesisir utara Batavia. Seperti umumnya ulama-ulama saat itu, Habib Husein pun menentang kehadiran Belanda di tanah Batavia. Dia bahkan sempat merasakan dinginnya sel penjara karena sikapnya itu.
BACA JUGA: Masjid Istiqlal Kembali Buka untuk Shalat Jumat Besok
Pada 1739, dia dengan dibantu masyarakat Sunda Kelapa membangun sebuah langgar atau surau di atas tanah yang dihibahkan seorang warga di Kampung Baru. Bangunan langgar atau mushala bergaya khas Betawi seluas 6 meter persegi itu selesai dibangun pada 20 Muharram 1152 Hijriah atau 29 April 1739.
Habib Husein menamainya Langgar Annur yang artinya cahaya. Kelak langgar ini diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapat hibah lahan cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.
Lahan masjid berbatasan dengan tembok utara kota lama Batavia serta berdekatan dengan gudang rempah perusahaan dagang Belanda, VOC dan Pasar Ikan. Bangunan gudang rempah itu sekarang dikenal sebagai Museum Bahari.