LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Jami Luar Batang merupakan salah satu masjid yang akan direvitalisasi Pemprov DKI Jakarta sebagai tujuan wisata religi. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Luar Batang, Gang V Nomor 1, Kelurahan Penjaringan.
Dikutip dari laman www.jakarta-tourism.go.id, masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, bernama Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Dia tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736.
Bersama asistennya yang keturunan China, yaitu Habib Abdul Kadir, Habib Husein berdakwah sambil mengajar mengaji di pesisir utara Batavia. Seperti umumnya ulama-ulama saat itu, Habib Husein pun menentang kehadiran Belanda di tanah Batavia. Dia bahkan sempat merasakan dinginnya sel penjara karena sikapnya itu.
BACA JUGA: Masjid Istiqlal Kembali Buka untuk Shalat Jumat BesokPada 1739, dia dengan dibantu masyarakat Sunda Kelapa membangun sebuah langgar atau surau di atas tanah yang dihibahkan seorang warga di Kampung Baru. Bangunan langgar atau mushala bergaya khas Betawi seluas 6 meter persegi itu selesai dibangun pada 20 Muharram 1152 Hijriah atau 29 April 1739.
Habib Husein menamainya Langgar Annur yang artinya cahaya. Kelak langgar ini diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapat hibah lahan cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.
Lahan masjid berbatasan dengan tembok utara kota lama Batavia serta berdekatan dengan gudang rempah perusahaan dagang Belanda, VOC dan Pasar Ikan. Bangunan gudang rempah itu sekarang dikenal sebagai Museum Bahari.
Mengutip Indonesia.go.id, Habib Husein wafat dalam usia 40 tahun pada 27 Ramadan 1169 Hijriah atau bertepatan dengan 27 Juni 1756. Tanggal tersebut diketahui dari prasasti yang terdapat di masjid yang dibuat pada 1916 silam.
Menurut cerita tutur masyarakat, saat Habib Husein wafat dan akan dikebumikan di daerah Tanah Abang, tiba-tiba saja jasadnya menghilang dari dalam keranda atau kurung batang. Pada saat bersamaan, jasad tersebut sudah berada di dekat rumah Habib Husein yang bersisian dengan masjid.
Jasad kembali ditandu menuju pemakaman di Tanah Abang, namun ketika jasad akan dikebumikan, lagi-lagi menghilang. Peristiwa itu berulang hingga tiga kali. Para jemaah dan murid-murid Habib Husein pun bersepakat agar guru mereka itu dimakamkan di tempatnya berdakwah.
Sejak saat itu, masjid yang semula bernama Annur pun diganti menjadi Masjid Keramat Luar Batang dan sang ulama digelari Habib Luar Batang atau Habib Keramat. Dalam peta-peta kolonial abad 18-19 ditandai dengan tulisan heiling graf atau masjid keramat.
(bal)