Apresiasi Sistem Pemilihan Muhammadiyah, Dahlan: Adopsi ke Politik Nasional
Elvin andika
Selasa, 22 November 2022 - 20:00 WIB
Sejumlah petugas sedang menjaga di tempat pemilihan Anggota PP Muhammadiyah yang menggunakan E-Voting. (Foto: Langit7.id/Jilul)
Eks Menteri BUMN, Dahlan Iskan memuji sistem pemilihan kepemimpinan di Muhammadiyah. Dahlan menilai sistem Pemilu Muhammadiyah berhasil untuk tidak menciptakan polarisasi yang tajam di antara masyarakat.
Menurut Dahlan, hal ini sekaligus mencegah terjadinya serangan fajar, kampanye terselubung atau membentuk kubu-kubuan. Sistem ini dinilai lebih mampu membawa nuansa silaturahmi dan musyawarah, bukan nuansa retorika politik.
"Saya merenungkannya: mungkinkah sistem Pemilu Muhammadiyah ini diadopsi untuk pilpres tingkat negara Indonesia. Kita tahu pemilu dan pilpres kita itu terlalu berdarah-darah. Terlalu memecah belah masyarakat. Kita memang bangga pada sistem demokrasi Amerika tapi kita tidak siap menirunya apa adanya," kata dahlan dalam tulisannya di Disway.id, dikutip Selasa (22/11/2022).
Baca Juga:Inovasi E-Voting Muhammadiyah Layak Dicontoh Organisasi Lain
Dahlan menuturkan bahwa sistem Pemilu Muhammadiyah dilakukan secara berjenjang dengan tingkat transparansi yang tinggi. Proses pemilihan di tingkat pusat pun berlangsung sangat ketat.
"Saya wawancara dengan penggembira, banyak di antara mereka yang saya kenal. Para penggembira itu tidak perlu kemrungsung menanti siapa yang terpilih jadi ketua umum yang baru. Proses pemilihan pimpinan pusat di Muhammadiyah sangat rasional," ucap Dahlan.
Dalam hal ini, pengurus Pimpinan Muhammadiyah Wilayah diminta mengusulkan 13 nama calon pimpinan pusat dan terkumpul 200 nama. Kemudian, diseleksi kembali menjadi 96 nama untuk dibawa ke Sidang Tanwir.
Menurut Dahlan, hal ini sekaligus mencegah terjadinya serangan fajar, kampanye terselubung atau membentuk kubu-kubuan. Sistem ini dinilai lebih mampu membawa nuansa silaturahmi dan musyawarah, bukan nuansa retorika politik.
"Saya merenungkannya: mungkinkah sistem Pemilu Muhammadiyah ini diadopsi untuk pilpres tingkat negara Indonesia. Kita tahu pemilu dan pilpres kita itu terlalu berdarah-darah. Terlalu memecah belah masyarakat. Kita memang bangga pada sistem demokrasi Amerika tapi kita tidak siap menirunya apa adanya," kata dahlan dalam tulisannya di Disway.id, dikutip Selasa (22/11/2022).
Baca Juga:Inovasi E-Voting Muhammadiyah Layak Dicontoh Organisasi Lain
Dahlan menuturkan bahwa sistem Pemilu Muhammadiyah dilakukan secara berjenjang dengan tingkat transparansi yang tinggi. Proses pemilihan di tingkat pusat pun berlangsung sangat ketat.
"Saya wawancara dengan penggembira, banyak di antara mereka yang saya kenal. Para penggembira itu tidak perlu kemrungsung menanti siapa yang terpilih jadi ketua umum yang baru. Proses pemilihan pimpinan pusat di Muhammadiyah sangat rasional," ucap Dahlan.
Dalam hal ini, pengurus Pimpinan Muhammadiyah Wilayah diminta mengusulkan 13 nama calon pimpinan pusat dan terkumpul 200 nama. Kemudian, diseleksi kembali menjadi 96 nama untuk dibawa ke Sidang Tanwir.