home edukasi & pesantren

Anak Yatim Akibat Pandemi Butuh Pendampingan Psikologis

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 11:05 WIB
Ilustrasi Anak Yatim (foto: langit7.id/istock)
Pandemi Covid-19 membuat banyak anak menjadi yatim dan piatu sebab mereka terpaksa kehilangan orang tuanya. Menurut data Kementerian Sosial RI, per Juli 2021 ada 11.045 anak di Indonesia menjadi yatim piatu.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Nur Rofiah, mengatakan, anak yatim akibat pandemi Covid-19 butuh pendampingan psikologis. Menurutnya, Anak yatim ibarat bangunan roboh karena kehilangan sandaran.

Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk memperlakukan anak yatim dengan baik dalam bingkai keluarga maslahah. Al-Qur’an menggunakan dua istilah dalam menyebut orang tua yang baik, abawaihi (ayah dan ibu) dan walidaini (kedua orang tua).

“Maka, anak yatim piatu perlu mendapatkan perhatian dari masyarakat, terutama ketika anak itu terlantar kebutuhan hidupnya,” kata Nur Rofiah, dikutip dari NU Online, Jumat (20/8/2021).

Prinsip utama keluarga maslahah adalah terhubung erat dengan misi Islam untuk mewujudkan sistem kehidupan yang rahmatan lil-alamin. Baik dalam urusan perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, dunia, dan akhirat.

“Sehingga kebaikan atau anugerah di dalam Islam yang dicita-cita itu adalah kemaslahatan untuk dhuafa/mustadh’afin, termasuk anak yatim-piatu,” ucap Nur Rofiah.

Dia menuturkan, anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan finansial saja, mereka butuh pendampingan secara psikologis, melalui perhatian dan kasih sayang sebagai tempat untuk berlindung. Ini akan berpengaruh pada tanggung jawab kemaslahatan manusia sebagai khalifah fil ardh, dan itu tidak hanya bersifat individu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
anak yatim pecinta anak yatim covid-19 psikologi anak kesehatan jiwa
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya