LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 membuat banyak anak menjadi yatim dan piatu sebab mereka terpaksa kehilangan orang tuanya. Menurut data Kementerian Sosial RI, per Juli 2021 ada 11.045 anak di Indonesia menjadi yatim piatu.
Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Nur Rofiah, mengatakan, anak yatim akibat pandemi Covid-19 butuh pendampingan psikologis. Menurutnya, Anak yatim ibarat bangunan roboh karena kehilangan sandaran.
Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk memperlakukan anak yatim dengan baik dalam bingkai keluarga maslahah. Al-Qur’an menggunakan dua istilah dalam menyebut orang tua yang baik, abawaihi (ayah dan ibu) dan walidaini (kedua orang tua).
“Maka, anak yatim piatu perlu mendapatkan perhatian dari masyarakat, terutama ketika anak itu terlantar kebutuhan hidupnya,” kata Nur Rofiah, dikutip dari NU Online, Jumat (20/8/2021).
Prinsip utama keluarga maslahah adalah terhubung erat dengan misi Islam untuk mewujudkan sistem kehidupan yang
rahmatan lil-alamin. Baik dalam urusan perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, dunia, dan akhirat.
“Sehingga kebaikan atau anugerah di dalam Islam yang dicita-cita itu adalah kemaslahatan untuk
dhuafa/mustadh’afin, termasuk anak yatim-piatu,” ucap Nur Rofiah.
Dia menuturkan, anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan finansial saja, mereka butuh pendampingan secara psikologis, melalui perhatian dan kasih sayang sebagai tempat untuk berlindung. Ini akan berpengaruh pada tanggung jawab kemaslahatan manusia sebagai
khalifah fil ardh, dan itu tidak hanya bersifat individu.
Manusia tidak hanya diminta berikhtiar menjadi saleh dan salehah, tetapi juga muslih atau muslihah, baik dan bergerak melakukan kebaikan kepada orang lain. Makna seutuhnya keluarga maslahah adalah mampu menyejahterakan seluruh anggota keluarga dan menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Demikian pula masyarakat Islami. Masyarakat Islami harus membuktikan keimanan dengan mewujudkan ketentraman seluas-luasnya. Itu berlaku juga dalam konteks bernegara, karan tolak ukur kemaslahatan suatu negara ada pada kesejahteraan rakyat.
“Negara yang Islami itu ditentukan oleh sejauh mana keyakinan pada Tuhan yang Maha Esa, dan dibuktikan oleh penyelenggara negara dengan memaslahatkan seluruh warga negaranya, tanpa terkecuali,” kata Nur Rofiah.
Menurut Nur Rofiah, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan strategi pembentukan masyarakat terbaik atau
mabadi khaira ummah. Dalam strategi itu terdapat lima hal agar tercipta masyarakat yang berakhlak baik.
Lima poin itu adalah
ash-shidqu (kejujuran atau transparansi), Al-
Amanah wal wafa bil ahdi (dapat mempertanggungjawabkan amanah dan disiplin dalam berjanji),
at-ta’awun (tolong menolong dalam kebaikan dan takwa)
, al’adalah (profesional dan objektif), dan
istiqamah (konsisten dan berkesinambungan).
“Karakter keluarga maslahah yang juga penting untuk kita pertimbangkan itu karakter sosial dalam berinteraksi dengan yang lain. Antara lain moderat dalam mendidik anak, seimbang dalam mengambil keputusan, konsisten dalam beribadah, toleran dalam melihat keberagaman,” pungkas dia.
(jqf)