Suami-Istri 'Perang Doa' Selama 24 Tahun, Kepala Rumah Tangga Kini Mualaf
Andi Muhammad
Jum'at, 09 Desember 2022 - 04:00 WIB
Suami-Istri Perang Doa Selama 24 Tahun, Kepala Rumah Tangga Kini Mualaf. Foto: Istimewa.
Kisah menarik datang dari sepasang suami istri asal Surabaya, Jawa Timur. Mereka ialah Thomas Setiobudi dan Tri Astuti Handayani yang saling mendoakan satu sama lain agar pindah agama ke salah satu pihak. Saat itu keduanya memasuki usia pernikahan ke-24 tahun.
Mereka memang tidak mengajak secara langsung untuk percaya ke masing-masing agama mereka. Namun kedua pasangan itu sama-sama saling berharap agar kekasihnya mempercayai agama yang mereka anut.
"Secara tidak langsung memang tidak ada tarik menarik tapi secara dibawa ke doa itu ada, jadi saya ke gereja selalu saya berdoa supaya anak dan istri saya mau ikut saya (masuk Kristen)," kata Thomas dikutip di kanal Hidyatullah TV, Kamis (8/12/2022).
Baca Juga:Vina Josephin, Masuk Islam Setelah Baca Muqadimah Al-Quran
Uniknya, toleransi beragama sangat diimpelentasikan dalam rumah tangga mereka kala itu. Ketika hari raya Kristen seperti Natal, sang istri membantu persiapan suami mengadakan Natal.
Sebaliknya, ketika memasuki hari besar Islam, sang suami membantu pasangan tercintanya untuk menyambut hari-hari besar Islam, seperti perayaan lebaran Idul Fitri.
Kala itu mereka telah dikarunia tiga anak yang mana ketiganya memeluk agama Islam. Hanya Thomas yang masih memegang teguh kepercayaannya dan terus medoakan istri tercinta demi memeluk kepercayaan yang sama.
Mereka memang tidak mengajak secara langsung untuk percaya ke masing-masing agama mereka. Namun kedua pasangan itu sama-sama saling berharap agar kekasihnya mempercayai agama yang mereka anut.
"Secara tidak langsung memang tidak ada tarik menarik tapi secara dibawa ke doa itu ada, jadi saya ke gereja selalu saya berdoa supaya anak dan istri saya mau ikut saya (masuk Kristen)," kata Thomas dikutip di kanal Hidyatullah TV, Kamis (8/12/2022).
Baca Juga:Vina Josephin, Masuk Islam Setelah Baca Muqadimah Al-Quran
Uniknya, toleransi beragama sangat diimpelentasikan dalam rumah tangga mereka kala itu. Ketika hari raya Kristen seperti Natal, sang istri membantu persiapan suami mengadakan Natal.
Sebaliknya, ketika memasuki hari besar Islam, sang suami membantu pasangan tercintanya untuk menyambut hari-hari besar Islam, seperti perayaan lebaran Idul Fitri.
Kala itu mereka telah dikarunia tiga anak yang mana ketiganya memeluk agama Islam. Hanya Thomas yang masih memegang teguh kepercayaannya dan terus medoakan istri tercinta demi memeluk kepercayaan yang sama.