Minyak Dunia Turun, Legislator Desak Pemerintah Turunkan Harga Pertalite
Ummu hani
Senin, 19 Desember 2022 - 18:10 WIB
Suasana di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Pertamina di Kalimalang, Jakarta Timur. (Foto: Langit7.id/Garry)
Anggota Komisi VII DPR RI, Rofik Hananto mendesak pemerintah menurunkan harga Pertalite. Desakan ini imbas turunnya harga minyak dunia.
Menurut laporan Bloomberg, harga minyak dunia yang sebelumnya menyentuh 100 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1,5 juta per barel, kini turun menjadi 74,29 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel. Rofik menilai turunnya harga minyak dunia seharusnya diikuti dengan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri.
Baca Juga:Harga BBM Non Subsidi Naik, Berlaku Mulai 1 Desember 2022
"Beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sudah menurunkan harga BBM. Kan ngenes, masyarakat di dunia menikmati turunnya harga, sementara masyarakat kita yang ekonominya masih susah tidak ikut menikmatinya," kata Rofik dalam keterangannya, Senin (19/12/2022).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyinggung alasan pemerintah tidak menurunkan harga BBM subsidi dikarenakan Pertalite belum mencapai harga keekonomian. Menurutnya, dana kompensasi dan subsidi pemerintah sebelumnya sudah dialokasikan dengan asumsi USD100 per barel.
"Jadi dana ini sudah menjadi hak masyarakat. Sehingga, kalau level harga minyak mentah sudah di bawah asumsi ya otomatis harus turun juga harga BBM-nya," ujar Rofik.
Baca Juga:Harga Turun, RON 92 Shell Lebih Murah dari Pertamax
Menurut laporan Bloomberg, harga minyak dunia yang sebelumnya menyentuh 100 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1,5 juta per barel, kini turun menjadi 74,29 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel. Rofik menilai turunnya harga minyak dunia seharusnya diikuti dengan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri.
Baca Juga:Harga BBM Non Subsidi Naik, Berlaku Mulai 1 Desember 2022
"Beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sudah menurunkan harga BBM. Kan ngenes, masyarakat di dunia menikmati turunnya harga, sementara masyarakat kita yang ekonominya masih susah tidak ikut menikmatinya," kata Rofik dalam keterangannya, Senin (19/12/2022).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyinggung alasan pemerintah tidak menurunkan harga BBM subsidi dikarenakan Pertalite belum mencapai harga keekonomian. Menurutnya, dana kompensasi dan subsidi pemerintah sebelumnya sudah dialokasikan dengan asumsi USD100 per barel.
"Jadi dana ini sudah menjadi hak masyarakat. Sehingga, kalau level harga minyak mentah sudah di bawah asumsi ya otomatis harus turun juga harga BBM-nya," ujar Rofik.
Baca Juga:Harga Turun, RON 92 Shell Lebih Murah dari Pertamax