LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota
Komisi VII DPR RI, Rofik Hananto mendesak pemerintah menurunkan harga Pertalite. Desakan ini imbas turunnya harga minyak dunia.
Menurut laporan
Bloomberg, harga
minyak dunia yang sebelumnya menyentuh 100 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1,5 juta per barel, kini turun menjadi 74,29 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel. Rofik menilai turunnya harga minyak dunia seharusnya diikuti dengan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri.
Baca Juga: Harga BBM Non Subsidi Naik, Berlaku Mulai 1 Desember 2022"Beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sudah menurunkan harga
BBM. Kan ngenes, masyarakat di dunia menikmati turunnya harga, sementara masyarakat kita yang ekonominya masih susah tidak ikut menikmatinya," kata Rofik dalam keterangannya, Senin (19/12/2022).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyinggung alasan pemerintah tidak menurunkan harga BBM subsidi dikarenakan
Pertalite belum mencapai harga keekonomian. Menurutnya, dana kompensasi dan subsidi pemerintah sebelumnya sudah dialokasikan dengan asumsi USD100 per barel.
"Jadi dana ini sudah menjadi hak masyarakat. Sehingga, kalau level harga minyak mentah sudah di bawah asumsi ya otomatis harus turun juga harga BBM-nya," ujar Rofik.
Baca Juga: Harga Turun, RON 92 Shell Lebih Murah dari PertamaxRofik menjelaskan, penurunan harga BBM bersubsidi seharusnya dilakukan sejak Agustus 2022. Saat itu, harga minyak dunia sudah mengalami penurunan.
Dia menekankan pemerintah untuk konsisten dengan penggunaan dana kompensasi dan subsidi yang sudah dialokasikan. Menurutnya, dana tersebut tercantum dalam APBN yang juga disepakati dengan DPR.
"Apalagi saat ini sebagian publik menengarai banyaknya alokasi anggaran yang tidak tepat. Seperti anggaran negara untuk kereta cepat, pembangunan IKN, rencana pemberian insentif subsidi untuk pembelian kendaraan listrik dan lain-lain," tuturnya.
Baca Juga: Hasil Uji Lab: Kualitas BBM Revvo 89 Lebih Bagus dari Pertalite(gar)