Menunda Kehamilan dan Menjaga Kesehatan Ibu Hamil Selama Pandemi
Redaksi
Selasa, 24 Agustus 2021 - 01:00 WIB
ilustrasi ibu hamil dan suaminya (foto: langit7.id/istock)
Selain resiko selama kehamilan, proses persalinan di masa pandemi mempunyai tantangan tersendiri. Saat ini banyak bidan yang memutuskan tidak melayani persalinan. Dapat dimaklumi, mengingat di antara 1459 tenaga kesehatan yang meninggal di Indonesia selama pandemi, 235nya adalah bidan.
Oleh: Hidayah Sunar Pedanastuti, S.Farm, Apt
Beberapa bulan terakhir ini saya mendapatkan berbagai cerita lika-liku perjalanan kehamilan teman-teman saya. Mulai dari kontrol kehamilan yang tidak seleluasa sebelum pandemi, sampai kesulitan yang dihadapi ketika terkena Covid-19 saat hamil atau menjelang persalinan. Mereka sendiri mengalami kehamilan dan persalinan, tapi mereka sepakat bahwa sebisa mungkin mengupayakan penundaan kehamilan selama pandemi.
Menurut data dari Dinkes Provinsi DIY, sebanyak 1.498 ibu hamil di Yogyakarta terpapar Covid-19 selama pandemi. Selama pandemi juga, terdapat 99 kematian ibu hamil, di mana 67 di antaranya meninggal dalam kondisi terpapar Covid-19. Sementara berdasarkan data BKKBN, angka kematian ibu hamil selama pandemi meningkat 10 kali lipat, dari 3 per seribu kehamilan menjadi 32 per seribu kehamilan.
Tanpa pandemi pun, ibu hamil harus lebih memperhatikan kondisi kesehatannya dibandingkan saat tidak hamil. Dan kondisi kehamilan sendiri meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah jika terkena Covid-19, dibandingkan dengan orang yang tidak sedang hamil. Paparan virus Covid-19 juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur (sebelum kehamilan mencapai 37 minggu).
Selain resiko selama kehamilan, proses persalinan di masa pandemi mempunyai tantangan tersendiri. Saat ini banyak bidan yang memutuskan tidak melayani persalinan. Dapat dimaklumi, mengingat di antara 1459 tenaga kesehatan yang meninggal di Indonesia selama pandemi, 235nya adalah bidan.
Oleh: Hidayah Sunar Pedanastuti, S.Farm, Apt
Beberapa bulan terakhir ini saya mendapatkan berbagai cerita lika-liku perjalanan kehamilan teman-teman saya. Mulai dari kontrol kehamilan yang tidak seleluasa sebelum pandemi, sampai kesulitan yang dihadapi ketika terkena Covid-19 saat hamil atau menjelang persalinan. Mereka sendiri mengalami kehamilan dan persalinan, tapi mereka sepakat bahwa sebisa mungkin mengupayakan penundaan kehamilan selama pandemi.
Menurut data dari Dinkes Provinsi DIY, sebanyak 1.498 ibu hamil di Yogyakarta terpapar Covid-19 selama pandemi. Selama pandemi juga, terdapat 99 kematian ibu hamil, di mana 67 di antaranya meninggal dalam kondisi terpapar Covid-19. Sementara berdasarkan data BKKBN, angka kematian ibu hamil selama pandemi meningkat 10 kali lipat, dari 3 per seribu kehamilan menjadi 32 per seribu kehamilan.
Tanpa pandemi pun, ibu hamil harus lebih memperhatikan kondisi kesehatannya dibandingkan saat tidak hamil. Dan kondisi kehamilan sendiri meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah jika terkena Covid-19, dibandingkan dengan orang yang tidak sedang hamil. Paparan virus Covid-19 juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur (sebelum kehamilan mencapai 37 minggu).
Selain resiko selama kehamilan, proses persalinan di masa pandemi mempunyai tantangan tersendiri. Saat ini banyak bidan yang memutuskan tidak melayani persalinan. Dapat dimaklumi, mengingat di antara 1459 tenaga kesehatan yang meninggal di Indonesia selama pandemi, 235nya adalah bidan.