home global news

OpenAI Bayar Rendah Buruh Asal Kenya Kembangkan ChatGPT

Rabu, 25 Januari 2023 - 22:00 WIB
Ilustrasi (foto: Time)
ChatGPT sempat membuat heboh publik global saat kemunculannya pada Desember 2022. Namun, kepopuleran ChatGPT ternyata berbanding terbalik dengan kesejahteraan para pegawainya. OpenAI selaku pengembang ChatGPT dilaporkan tidak memberikan kondisi kerja yang baik, bahkan menggaji rendah para karyawannya di Kenya.

Melansir The Independent, ChatGPT dibangun dengan bantuan dari tim pelabelan data yang berbasis di Kenya. Mereka ditugaskan membersihkan ChatGPT yang bersifat pornografi, kekerasan, dan pidato kebencian. Tindakan tersebut dilakukan agar ChatGPT terkesan lebih humanis.

“Pekerja dilaporkan membaca ratusan entri semacam ini setiap hari dengan upah dari $1 hingga $2 per jam, atau gaji bulanan $170,” tulis laman Independent, Rabu (25/1/2023).

Selain OpenAI dilaporkan bekerjasama dengan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) bernama Sama. Perusahaan itu juga dikenal mempekerjakan buruh dari Kenya, Uganda, dan India untuk mengerjakan tugas pelabelan data atas nama raksasa Silicon Valley seperti Google dan Meta.

Para buruh Kenya dilaporkan hanya menghasilkan sekitar $1,32-$2 per jam untuk perusahaan. OpenAI dikabarkan berpotensi memperoleh suntikan dana dari Microsoft sekitar $10 miliar. Jika kabar tersebut benar, OpenAI akan bernilai $29 miliar. Meski begitu, perusahaan AI itu belum memberikan tanggapan apapun.

Para Buruh Mengaku Tersiksa

Salah satu pekerja mengaku mengalami halusinasi setelah melihat penjelasan seorang laki-laki yang bersetubuh dengan seekor anjing. “Itu sangat menyiksa,” kata pekerja tersebut kepada Time.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
chat gpt chatbot artificial intelligence
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya