Kisah Pesepak Bola Hatayspor Selamat dari Gempa karena Salat Subuh
Fajar adhitya
Jum'at, 10 Februari 2023 - 20:19 WIB
Pesepak bola Kevin Soni yang mukim di Hatay menceritakan detik-detik tanah berguncang dan bagaimana ia selamat berkat menunggu salat Subuh. Foto: Instagram.
Turki dilanda gempa Magnitudo 7,8 pada Senin (6/2/2023) dengan pusat getaran di Kahramanmaraş. Pesepak bola Kevin Soni yang mukim di Hatay menceritakan detik-detik tanah berguncang dan bagaimana ia selamat berkat menunggu salat Subuh.
Soni saat ini bermain untuk klub Divisi Teratas Liga Turki, Hatayspor. Saat bumi berguncang hebat, ia mengaku sedang berada di rumah, begadang sambil main Playstation menunggu salat Subuh.
Baca juga: Imbauan Salat Gaib untuk Korban Gempa Turki, Begini Niat dan Rukunnya
“Saya pulang setelah pertandingan. Saya sedang duduk dengan sepupu saya dan kami bermain PlayStation. Sekitar jam 4 atau 5 pagi, tanah mulai bergetar,” katanya dilansir Foot Mercato, Kamis (9/2/2023).
Pemain asal Kamerun ini menyaksikan bagaimana langit-langit rumahnya roboh yang membuatnya lari menyelamatkan diri. Dia punya waktu sangat sebentar untuk mengambil paspor dan ponsel sebelum semuanya benar-benar hancur.
“Pada saat itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah akhir dunia dan akhir secara umum. Saya melihat orang-orang sekarat di sebelah saya. Saya trauma,” kata pesepakbola berusia 24 tahun ini.
Saat getaran bermula, ia menganggapnya sebagai fenomena sepele akibat angin kencang. Namun, getaran justru semakin kuat, bangunan dan tanah mulai terbelah.
Soni saat ini bermain untuk klub Divisi Teratas Liga Turki, Hatayspor. Saat bumi berguncang hebat, ia mengaku sedang berada di rumah, begadang sambil main Playstation menunggu salat Subuh.
Baca juga: Imbauan Salat Gaib untuk Korban Gempa Turki, Begini Niat dan Rukunnya
“Saya pulang setelah pertandingan. Saya sedang duduk dengan sepupu saya dan kami bermain PlayStation. Sekitar jam 4 atau 5 pagi, tanah mulai bergetar,” katanya dilansir Foot Mercato, Kamis (9/2/2023).
Pemain asal Kamerun ini menyaksikan bagaimana langit-langit rumahnya roboh yang membuatnya lari menyelamatkan diri. Dia punya waktu sangat sebentar untuk mengambil paspor dan ponsel sebelum semuanya benar-benar hancur.
“Pada saat itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah akhir dunia dan akhir secara umum. Saya melihat orang-orang sekarat di sebelah saya. Saya trauma,” kata pesepakbola berusia 24 tahun ini.
Saat getaran bermula, ia menganggapnya sebagai fenomena sepele akibat angin kencang. Namun, getaran justru semakin kuat, bangunan dan tanah mulai terbelah.