LANGIT7.ID - , - Turki dilanda
gempa Magnitudo 7,8 pada Senin (6/2/2023) dengan pusat getaran di Kahramanmaraş.
Pesepak bola Kevin Soni yang mukim di Hatay menceritakan detik-detik tanah berguncang dan bagaimana ia selamat berkat menunggu salat Subuh.
Soni saat ini bermain untuk klub Divisi Teratas Liga Turki, Hatayspor. Saat bumi berguncang hebat, ia mengaku sedang berada di rumah, begadang sambil main Playstation menunggu
salat Subuh.
Baca juga: Imbauan Salat Gaib untuk Korban Gempa Turki, Begini Niat dan Rukunnya“Saya pulang setelah pertandingan. Saya sedang duduk dengan sepupu saya dan kami bermain PlayStation. Sekitar jam 4 atau 5 pagi, tanah mulai bergetar,” katanya dilansir Foot Mercato, Kamis (9/2/2023).
Pemain asal Kamerun ini menyaksikan bagaimana langit-langit rumahnya roboh yang membuatnya lari menyelamatkan diri. Dia punya waktu sangat sebentar untuk mengambil paspor dan ponsel sebelum semuanya benar-benar hancur.
“Pada saat itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah akhir dunia dan akhir secara umum. Saya melihat orang-orang sekarat di sebelah saya. Saya trauma,” kata pesepakbola berusia 24 tahun ini.
Saat getaran bermula, ia menganggapnya sebagai fenomena sepele akibat angin kencang. Namun, getaran justru semakin kuat, bangunan dan tanah mulai terbelah.
Guncangan hebat bahkan membuatnya sempat terlintas ingin segera melompat dari kediamannya yang berada di lantai 7.
Baca juga: Korban Tewas Gempa Turki Tembus 12.000 Orang, Erdogan Akui Sulit Dapat Bantuan“Saya berkata pada diri sendiri jika saya melompat ke sana, saya akan mematahkan kaki saya dan saya tidak akan bermain sepak bola lagi. Jadi saya naik tangga dan berlari mencari jalan keluar.
Kehancuran di depan matanya menyadarkan Soni bahwa kehidupan seperti tergantung pada seutas benang. Pada saat-saat inilah manusia menyadari bahwa segala yang dipunya hanyalah wujud kesombongan.
“Semua orang meninggalkan rumah mereka, mobil mereka, dan mencari tempat untuk bersembunyi. Itu benar-benar situasi yang layak untuk sebuah film di Netflix kecuali bahwa itu adalah kenyataan, sayang sekali,” imbuhnya.
Selamat dari gempa dahsyat adalah keajaiban. Soni bersyukur Allah masih memberikan kesempatan untuk terus menjalani hidup.
“Saya seorang Muslim dan saya sangat religius. Apa yang menyelamatkan saya adalah bahwa saya ingin menunggu sampai jam 6:40 pagi untuk salat Subuh,” katanya.
Baca juga: Korban Tewas Gempa Turki Tembus 12.000 Orang, Erdogan Akui Sulit Dapat BantuanMenunggu salat Subuh membuatnya tidak tertidur. “Jadi saya berkata pada diri sendiri bahwa jika saya tidur, melihat bagaimana semuanya jatuh di rumah, saya pasti akan mati. Itu sudah pasti. Batu-batu yang jatuh sangat besar. Itu adalah bangunan 17 lantai, bayangkan. Jadi jika saya tidur, saya pikir saya akan mati.”
(est)