Kesaksian Mahasiswa Indonesia Saat Gempa M7,8 Guncang Turki
Muhajirin
Sabtu, 11 Februari 2023 - 23:00 WIB
Gempa Turki (foto: AP Photo)
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kahramanmaras, Hammam Ishthifaulloh, menjadi salah satu penyintas gempa bumi M7,8 yang mengguncang Turki-Suriah pada Senin (6/2/2023).
Saat gempa terjadi, barang-barang termasuk surat-surat penting masih tertinggal di apartemen yang runtuh akibat gempa. Saat keluar apartemen pun Hammam bersama penghuni lain mendapati cuaca buruk. Hujan sedang deras dan hanya memakai pakaian seadanya.
Setelah gempa terjadi dan Gedung-gedung runtuh, Hammam langsung berkoordinasi dan mencari tahu keberadaan mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Setelah berkoordinasi, mereka sepakat untuk bekrumpul di kampus.
Baca Juga:Jumlah Korban Tewas Gempa Turki Terus Bertambah
“Kita berkoordinasi untuk berkumpul di satu tempat di dalam kampus, Alhamdulillah semua bisa berkumpul di tempat yang aman,” kata Hammam dalam konferensi pers yang digelar Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) secara daring, Sabtu (11/2/2023).
Kendati begitu, gedung kampus bukan pilihan tepat. Mahasiswa asal Semarang itu mengungkapkan, para penyintas akhirnya berlindung di bawah gazebo. Itu karena banyak mahasiswa Indonesia yang mengalami trauma.
Saat gempa terjadi, barang-barang termasuk surat-surat penting masih tertinggal di apartemen yang runtuh akibat gempa. Saat keluar apartemen pun Hammam bersama penghuni lain mendapati cuaca buruk. Hujan sedang deras dan hanya memakai pakaian seadanya.
Setelah gempa terjadi dan Gedung-gedung runtuh, Hammam langsung berkoordinasi dan mencari tahu keberadaan mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Setelah berkoordinasi, mereka sepakat untuk bekrumpul di kampus.
Baca Juga:Jumlah Korban Tewas Gempa Turki Terus Bertambah
“Kita berkoordinasi untuk berkumpul di satu tempat di dalam kampus, Alhamdulillah semua bisa berkumpul di tempat yang aman,” kata Hammam dalam konferensi pers yang digelar Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) secara daring, Sabtu (11/2/2023).
Kendati begitu, gedung kampus bukan pilihan tepat. Mahasiswa asal Semarang itu mengungkapkan, para penyintas akhirnya berlindung di bawah gazebo. Itu karena banyak mahasiswa Indonesia yang mengalami trauma.