Masjid Al Hilal Katangka, Peninggalan Raja yang Jadi Pusat Syiar Islam
Andi amriani
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 16:25 WIB
Masjid Al Hilal Katangka di Gowa. (Foto: Langit7/Andi Amriani).
Masjid Al Hilal Katangka merupakan masjid tertua yang menjadi pusat syiar islam di Sulawesi Selatan (Sulsel). Rumah ibadah ini menjadi salah satu peninggalan raja-raja di Kabupaten Gowa.
Bangunan yang terletak di Jalan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini, sudah mengalami perubahan. Namun rekonstruksi itu tetap tidak merubah bentuk aslinya, sehingga masih tampak bangunan peninggalan raja-raja.
Banyak pengunjung dari luar daerah yang datang untuk wisata religi. Masjid Al Hilal Katangka pun tak jarang menjadi objek swafoto para pendatang ini.
Baca Juga:Masjid Agung, Peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam
Pengasuh Masjid Al Hilal Katangka, Ngalle, menceritakan dulu nama masjid tersebut Masjid Katangka. Sebab banyak tumbuh pohon katangka di sekitar masjid, bahkan kayunya dipakai untuk pembuatan masjid pada 1603.
"Mimbar ini dari kayu katangka, dibuat pada Jumat, 2 Muharram 1303 hijriah, diukir oleh Karaeng Katangka bersama Tumailalang Lolo," kata Ngalle.
Selain mimbar, bagian menarik lainnya yakni ada empat pilar utama masjid yang berbentuk silinder cembung. Pilar ini mengadopsi gaya bangunan Eropa. Jadi masjid ini memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Tiongkok, Eropa, Jawa, hingga lokal.
Bangunan yang terletak di Jalan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini, sudah mengalami perubahan. Namun rekonstruksi itu tetap tidak merubah bentuk aslinya, sehingga masih tampak bangunan peninggalan raja-raja.
Banyak pengunjung dari luar daerah yang datang untuk wisata religi. Masjid Al Hilal Katangka pun tak jarang menjadi objek swafoto para pendatang ini.
Baca Juga:Masjid Agung, Peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam
Pengasuh Masjid Al Hilal Katangka, Ngalle, menceritakan dulu nama masjid tersebut Masjid Katangka. Sebab banyak tumbuh pohon katangka di sekitar masjid, bahkan kayunya dipakai untuk pembuatan masjid pada 1603.
"Mimbar ini dari kayu katangka, dibuat pada Jumat, 2 Muharram 1303 hijriah, diukir oleh Karaeng Katangka bersama Tumailalang Lolo," kata Ngalle.
Selain mimbar, bagian menarik lainnya yakni ada empat pilar utama masjid yang berbentuk silinder cembung. Pilar ini mengadopsi gaya bangunan Eropa. Jadi masjid ini memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Tiongkok, Eropa, Jawa, hingga lokal.