Puasa Ramadhan, Cara Bebaskan Manusia dari Gaya Hidup Materialistik
Muhajirin
Ahad, 26 Maret 2023 - 05:00 WIB
Ilustrasi puasa (Foto: Istimewa)
Ramadhan, bulan suci yang dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia, bukan hanya menjadi momen untuk menahan diri dari makan dan minum selama siang hari. Lebih dari itu, ramadhan adalah momen untuk memperkuat dimensi spiritual dalam diri manusia yang seringkali terjerat dengan berbagai macam gaya hidup materialistik.
Menurut Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, puasa ramadhan merupakan mekanisme ilahiah yang Allah berikan untuk membebaskan manusia dari jeratan-jeratan tersebut.
Kaum muslimin harus mampu menyeimbangkan dimensi spiritual dan material dalam hidupnya. Dalam menjalani kehidupan dengan mencari materi bukanlah suatu kesalahan, namun tidak boleh melupakan kehidupan yang hakiki, yaitu kehidupan di akhirat kelak.
Baca Juga:Mengapa Ramadhan Identik dengan Kurma?
“Puasa menjadi mekanisme ilahiah agar kita sebagai manusia yang terlarut dan terjerat dengan persoalan materialistik, agar kita segera menemukan kembali fitrah kesucian kita,” kata Fathurrahman Kamal dalam acara Tarhib ramadhan 1444 H yang diselenggarakan oleh Institut Tabligh Muhammadiyah, dikutip pada Sabtu (25/3/2023).
Puasa ramadhan dapat membantu menajamkan spiritualitas kaum Muslim dalam menghadapi era disrupsi. Pada era ini, manusia secara umum mengalami kesulitan membedakan antara yang hakiki dan yang fana.
Selain itu, pada era disrupsi, kerap terjadi hilangnya simpati dan empati manusia satu sama lain yang menyebabkan kepedulian terhadap kesulitan orang lain mulai memudar. Fathurrahman Kamal khawatir jika hal itu terus berlanjut, akan berdampak pada keroposnya pondasi spiritualitas manusia.
Menurut Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, puasa ramadhan merupakan mekanisme ilahiah yang Allah berikan untuk membebaskan manusia dari jeratan-jeratan tersebut.
Kaum muslimin harus mampu menyeimbangkan dimensi spiritual dan material dalam hidupnya. Dalam menjalani kehidupan dengan mencari materi bukanlah suatu kesalahan, namun tidak boleh melupakan kehidupan yang hakiki, yaitu kehidupan di akhirat kelak.
Baca Juga:Mengapa Ramadhan Identik dengan Kurma?
“Puasa menjadi mekanisme ilahiah agar kita sebagai manusia yang terlarut dan terjerat dengan persoalan materialistik, agar kita segera menemukan kembali fitrah kesucian kita,” kata Fathurrahman Kamal dalam acara Tarhib ramadhan 1444 H yang diselenggarakan oleh Institut Tabligh Muhammadiyah, dikutip pada Sabtu (25/3/2023).
Puasa ramadhan dapat membantu menajamkan spiritualitas kaum Muslim dalam menghadapi era disrupsi. Pada era ini, manusia secara umum mengalami kesulitan membedakan antara yang hakiki dan yang fana.
Selain itu, pada era disrupsi, kerap terjadi hilangnya simpati dan empati manusia satu sama lain yang menyebabkan kepedulian terhadap kesulitan orang lain mulai memudar. Fathurrahman Kamal khawatir jika hal itu terus berlanjut, akan berdampak pada keroposnya pondasi spiritualitas manusia.