Opini
Memaknai Keberkahan Ramadhan: Momentum Reorientasi Kehidupan
Imam shamsi ali - presiden nusantara foundation
Sabtu, 25 Maret 2023 - 19:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Ramadan sebagai bulan Al-Qur’an (syahrul Qur’an) menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai momentum untuk melakukan apa yang saya sebut “reorientasi kehidupan”. Manusia hadir di atas dunia ini dengan orientasi (tujuan) yang jelas. Hanya saja dunia yang penuh dengan hiruk pikuk dan rutinitas yang tiada henti menjadikan banyak manusia mengalami disorientasi hidup.
Di sìnilah sejatinya Ramadan hadir menjadi momentum yang penuh keberkahan (keutamaan) dalam upaya manusia melakukan reorientasi hidup. Dengan puasa seseorang akan lebih mampu memerdekakan diri dari kungkungan atau distraksi dunia yang memang sangat keras.
Baca juga: Memaknai Keberkahan Ramadhan
Ketika seseorang dikungkung atau terdistraksi oleh hiruk pikuk dunia dia akan kehilangan arah hidup. Pada galibnya akan mengalami disorientasi hidup. Dia akan menjalani hidupnya secara rutin dan cenderung membosankan. Sehingga pada akhirnya ada dua kemungkinan:
Satu, mengalami kebosanan atau kejenuhan hidup. Biasanya orang seperti ini akan mengalami goncangan batin, semakmur apapun kehidupan dunianya. Dia akan goyah, gersang, bahkan geram pada diri dan hidupnya bahkan berujung kepada keputus asaan. Salah satu penyakit yang paling merebak di dunia Barat saat ini adalah “mental health problem” (penyakit mental). Rumah-rumah sakit penuh dengan pasien yang berpenyakit mental.
Dua, mencoba atau mencari hal-hal yang tidak normal (tidak alami) dalam upaya menemukan kepuasan hidup. Di dunia Barat salah satu penyebab banyaknya gaya hidup yang tidak alami, termasuk kecenderungan terhadap sesama jenis misalnya karena hal ini. Yaitu ketidak puasan hidup yang menyebabkan orang mencari hal baru atau hal aneh yang kadang menjijikkan bahkan destruktif pada diri dan alam.
Baca juga: Imam Shamsi Ali: Ada Upaya Penggiringan Opini Islamofobia Hanya Mitos
Di sìnilah sejatinya Ramadan hadir menjadi momentum yang penuh keberkahan (keutamaan) dalam upaya manusia melakukan reorientasi hidup. Dengan puasa seseorang akan lebih mampu memerdekakan diri dari kungkungan atau distraksi dunia yang memang sangat keras.
Baca juga: Memaknai Keberkahan Ramadhan
Ketika seseorang dikungkung atau terdistraksi oleh hiruk pikuk dunia dia akan kehilangan arah hidup. Pada galibnya akan mengalami disorientasi hidup. Dia akan menjalani hidupnya secara rutin dan cenderung membosankan. Sehingga pada akhirnya ada dua kemungkinan:
Satu, mengalami kebosanan atau kejenuhan hidup. Biasanya orang seperti ini akan mengalami goncangan batin, semakmur apapun kehidupan dunianya. Dia akan goyah, gersang, bahkan geram pada diri dan hidupnya bahkan berujung kepada keputus asaan. Salah satu penyakit yang paling merebak di dunia Barat saat ini adalah “mental health problem” (penyakit mental). Rumah-rumah sakit penuh dengan pasien yang berpenyakit mental.
Dua, mencoba atau mencari hal-hal yang tidak normal (tidak alami) dalam upaya menemukan kepuasan hidup. Di dunia Barat salah satu penyebab banyaknya gaya hidup yang tidak alami, termasuk kecenderungan terhadap sesama jenis misalnya karena hal ini. Yaitu ketidak puasan hidup yang menyebabkan orang mencari hal baru atau hal aneh yang kadang menjijikkan bahkan destruktif pada diri dan alam.
Baca juga: Imam Shamsi Ali: Ada Upaya Penggiringan Opini Islamofobia Hanya Mitos