LANGIT7.ID - , Jakarta - Isu
Islamofobia bukan lagi hal baru dan selalu menjadi bahan diskusi dalam berbagai kesempatan. Isu ini hadir dan tak pernah berhenti seiring perjalanan dakwah dan keislaman di Amerika dan dunia.
Setiap 15 Maret, dunia memperingatinya sebagai Hari Anti Islamofobia (Day to Combat Islamophobia). Peringatan ini diadopsi dari resolusi Sidang Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa
(PBB) untuk memerangi Islamofobia.
Baca juga: Shermon Burgess, Aktivis Anti-Islam Australia Kini Jadi MualafPresiden Nusantara Foundation,
Imam Shamsi Ali menyebut sejumlah fakta-fakta terkait Islamofobia, khususnya di Amerika.
Menurut Shamsi Ali, ada upaya-upaya penggiringan opini jika Islamofobia itu adalah
mitos yang dibesarkan lalu tumbuh menjadi seolah sebuah realita.
"Bahkan lebih jahat lagi kejahatan kepada Komunitas Muslim ini berusaha dibalik (twisted) seolah umat Islamlah sebagai pelaku dari berbagai kekerasan dan kejahatan.
Umat Islam oleh media massa umumnya ditampilkan sebagai pelaku (perpetrators) berbagai kebencian dan kejahatan, bahkan ancaman (threat) kepada orang lain," kata Shamsi Ali, mengutip tulisannya berjudul "Muslim Amerika dan Islamofobia", Kamis (16/5/2023).
Hal ini, tambah Shamsi Ali, malah menjadikan mereka, pembenci dan anti Islam, akan selalu berusaha menyudutkan Islam dan umat dengan segala cara yang memungkinkan.
Baca juga: Pemerintah Denmark Tolak Rencana Pelarangan Hijab di SekolahPeristiwa akhir tahun 2022 di kota New York menjadi salah satu contoh media massa Amerika membalik kenyataan. Dari Islam dan Komunitas Muslim yang berkontribusi bagi kebaikan, keamanan, dan kemajuan Amerika dibalik menjadi musuh dan ancaman bagi negara dan bangsa tersebut.
"Untuk mengingatkan saja bahwa di malam akhir tahun 2022 lalu ada tiga kasus yang terjadi di negara ini. Satu, pembacokan dua anggota NYPD di Time Square NYC. Dua, penembakan massal di Florida yang menewaskan tiga orang. Tiga, penembakan massal di sebuah kota di Georgia yang juga menewaskan beberapa orang," jelas ulama kelahiran 5 Oktober 1967 ini.
"Tapi kenyataannya hanya pelaku di Time Square yang kebetulan mengaku Muslim agamanya disebut-sebut di media massa, (
Muslim radical,
Islamic extremist, dan lainnya)," imbuhnya.
Kenyataan itu menyampaikan beberapa fakta tentang Islamofobia.
Baca juga: Integrasi dan Berperan Aktif di Masyarakat, Solusi Hadapi IslamofobiaPertama, bahwa Islamofobia itu fakta dan nyata. Jika kecenderungan kesalahpahaman dan ketakutan itu mulai berkurang akan terjadi lagi peristiwa yang kemudian kembali menguatkannya.
"Sebagaimana kita ketahui bahwa the Brookings Institute pada tanggal 29 Desember 2022 mengumumkan hasil survey yang menyimpulkan bahwa 78 persen masyarakat Amerika mulai melihat agama Islam dengan pandangan positif. Hal ini yang nampaknya mendapat reaksi dengan pembacokan polisi di Time Square. Dan itu terjadi justru pada saat jutaan mata manusia tertuju ke sana karena perayaan akhir tahun," terang alumni Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pakistan.
Kedua, bahwa Islamofobia itu bukan baru. Secara teologis dan fakta historis Islamofobia telah menjadi bagian dari perjalanan dakwah Islam.
Ayat-ayat Al-Quran maupun sejarah para rasul dan nabi bukan hal yang baru. Bahkan jika dikaji perjalanan sejarah Islam di dunia Barat, termasuk Amerika, ketakutan yang mengantar kepada kebencian dan permusuhan bersifat historis.
Baca juga: Masjid di London Terima Surat Berisi Kebencian Singgung Korban Gempa Turki"Peperangan-peperangan yang terjadi yang melibatkan dunia Islam, dari Afghanistan, Irak-Iran, Teluk 1 dan 2, hingga ke terbentuk Taliban yang mengantar kepada peristiwa 9/11 di tahun 2001, semuanya tidak bisa terlepas dari upaya membangun persepsi tentang Islam yang berbahaya," jelas Shamsi Ali.
Ketiga, bahwa Islamofobia itu akan menjadi bagian alami dari perjalanan dakwah dan keislaman umat. Selain diyakini secara teologis dan menjadi fakta historis, kenyataannya memang Islamofobia tidak terhenti hanya karena faktor-faktor sesaat.
Menurut Shamsi Ali, "Pergantian Presiden Amerika, misalnya dari Donald Trump Ke Biden ternyata tidak menghilangkan Islamophobia,".
Allah Ta'ala menyampaikan realita tersebut secara tersirat dalam Surat As-Shaff ayat 8, dengan kata يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ “
yuriiduuna liyuthfiu nuurallah” yang artinya, mereka ingin memadamkan cahaya Allah.
"Kata “uuriiduuna” ini dikenal sebagai bentuk
“fi’il mudhori’i atau “
present/continuous tense” yang menggambarkan keadaan sekarang dan berkelanjutan ke masa depan," pungkasnya.
Baca juga: Menggali Hikmah dari Islamofobia(est)