Platform yang dirancang untuk mengumpulkan data dan laporan langsung tentang insiden kebencian ini bertujuan membangun basis data komprehensif untuk memerangi diskriminasi dan bias anti-Muslim di Norwegia.
Pada September 2019, perusakan tanda selamat datang baru di Islamic Center of Grand Junction, Colorado, mendorong masyarakat untuk menunjukkan dukungan dan memulai penggalangan dana untuk memperbaiki tanda yang rusak.
Pada awalnya, Mike mengira bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme di mana sebagian penduduk Amerika Serikat mempercayai stereotip ini. Hal ini karena pengaruh berita-berita yang menyudutkan Muslimin, terlebih setelah peristiwa 9/11.
Imam Masjid Pusat, Lee Ju-hwa mengungkapkan masyarakat cenderung menganggap Islam sebagai agama yang represif akibat aktivitas ekstremis. Ini merupakan buntut dari kejadian 9/11 pada 2001 silam di Amerika Serikat.
Kelompok pria bersenjata menyerbu sebuah masjid di Nigeria ketika melaksanakan salat Isya berjamaah. Komplotan bersenjata itu menculik 19 jamaah dan melukai beberapa jamaah lainnya.
Hal tersebut, kata dia, yang menimbulkan prejudice atau prasangka buruk banyak orang kepada umat Islam. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis guna menangkal maraknya Islamofobia, terutama di Indonesia.
Penting bagi seluruh umat muslim untuk memahami tentang urgensi akidah dalam Islam serta membela akidah dan syariah islam itu sendiri. Namun dalam menegakan dan membela agama Allah tidak boleh bersifat arogan.
Menurut dia, kekuatan Dinasti Bani Umayyah yang begitu kuat membuat kerajaan-kerajaan Kristen di Spanyol, saat itu tidak berani melakukan pertentangan pada umat Islam.
Setelah para pedagang berhasil tembus ke Nusantara, penyebaran dakwah selanjutnya dilakukan dengan pendidikan, tasawuf, hingga pernikahan. Penyebaran Islam menembus Nusantara untuk kali pertama tepatnya di Sumatera.