LANGIT7.ID, Jakarta - Enam tahun telah berlalu setelah insiden Islamic Center Victoria, Texas, Amerika Serikat hangus terbakar. Meski begitu, komunitas muslim di sana tetap bersikap positif, namun mereka juga berhati-hati terkait keselamatan diri yang mengancam akibat maraknya fenomena Islamofobia.
Salah satu anggota Islamic Center Victoria, Shahid Hashmi mengatakan, insiden tersebut membuat iman para muslim setempat semakin kuat. Walaupun dihantui oknum-oknum pembenci Islam yang kerap berbuat anarkis hingga tak segan membakar masjid.
“Soal kekhawatiran tentang Islamofobia dan sebagainya, kita harus ekstra waspada, ekstra hati-hati. Kami dulu membuka pintu, sekarang kami mengunci pintu.” kata Shahid dikutip dari About Islam, Selasa (31/1/2023).
Untuk informasi, masjid tersebut dibakar pada 28 Januari 2017. Tersangka dari insiden pembakaran masjid itu bernama Marq Vincent Perez. Kini dia tengah menjalani hukuman penjara selama 24,5 tahun.
Shahid masih ingat bagaimana ratusan warga Victoria mengunjungi reruntuhan masjid yang terbakar untuk menunjukkan solidaritas dan persatuan. Saat ini Victoria Islamic Center telah kembali berdiri namun dengan tidak membuka pintu untuk masyarakat umum, hal ini merupakan sikap waspada terhadap islamofobia.
Masing-masing jamaah pun memiliki kunci pintu masjid sebagai akses ke masjid. Meski begitu, para jamaah menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat yang menganut keyakinan berbeda.
“Siapa yang bisa melupakan? Itu sangat sulit. Kami telah berada di sini di Victoria selama lebih dari 15 tahun saat itu dan tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun.” ujarnya.
“Kami memiliki hubungan yang baik dengan agama lain di sini tetapi api membuat kami merasa tidak aman, tidak aman karena kami tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi.” sambung dia.
Kendati demikian, masih banyak komunitas-komunitas non muslim yang mendukung masyarakat muslim di AS. Pada tahun 2021, anggota komunitas lokal di Suffolk County di Brentwood, New York, berkumpul untuk menunjukkan dukungan kepada masjid lokal yang dirusak bulan lalu.
Pada September 2019, perusakan tanda selamat datang baru di Islamic Center of Grand Junction, Colorado, mendorong masyarakat untuk menunjukkan dukungan dan memulai penggalangan dana untuk memperbaiki tanda yang rusak.
Dia pun berharap agar toleransi beragama di AS semakin membaik. Tak luput dia berpesan bahwa Islam bukanlah teroris dan Islam meruapakan agama yang indah dengan mengajarkan kebaikan.
“Ketika Anda merasa bahwa tangan Anda ada di tangan Tuhan, Anda merasa aman dan terjamin. Doa membuat Anda merasa damai. Kami memiliki doa lima kali sehari. Jika Anda merasa telah melakukan kesalahan atau merasa bersalah, dalam doa kami, kami menundukkan wajah dan merendahkan diri di hadapan Tuhan,” kata dia.
“Mengapa berdebat atau bersikap rasis terhadap orang lain? Kita semua berasal dari Allah," tandasnya.
(zhd)