LANGIT7.ID-, Washington - Harga minyak dikabarkan kembali naik. Kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat lima persen hingga mencapai USD87,49 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 12 Juni 2026.
Meski disebut tertinggi namun ini masih jauh di bawah puncak harga yang tercatat sejak awal perang terjadi yaitu Februari 2026. Sebagaimana melansir
AlJazeera, Rabu (14/7/2026).
Sebelumnya, harga telah melonjak lebih dari sembilan persen pada hari Senin. Kenaikan ini terjadi setelah adanya serangan baru oleh AS terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran mengenai gencatan senjata yang sudah rapuh serta risiko lonjakan inflasi kembali.
Baca juga: AS Luncurkan Serangan Lagi ke Iran; UAE Sebut 1 Tewas dalam Serangan Tanker, Iran Langsung MembalasSamer Hasn, analis pasar senior di
XS.com dalam sebuah catatannya mengatakan, saat ini kita sedang berada dalam fase negosiasi di tengah situasi konflik, menyusul kegagalan perundingan pasca-penandatanganan Nota Kesepahaman antara AS dan Iran.
"Kemungkinan tercapainya kembali kesepakatan gencatan senjata dengan ketentuan yang lebih rinci mengenai pengelolaan Selat Hormuz bukanlah hal yang mustahil," ujarnya, mengutip
The Wall Street Journal.Harga Minyak Naik di Tengah Eskalasi Konflik Timur TengahHarga minyak naik pada awal perdagangan di Asia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. AS melancarkan serangan malam ketiga berturut-turut terhadap Iran, menyusul pengumuman
Presiden Trump mengenai gelombang serangan selama beberapa hari dan blokade baru terhadap perdagangan Iran di
Selat Hormuz.
Baca juga: Campur Tangan Amerika di Selat Hormuz Membahayakan Pasokan Minyak dan Gas Dunia, AS Harus Tanggung JawabTrump juga menyatakan bahwa AS akan mengenakan biaya 20% atas semua kargo yang melintasi jalur perairan vital tersebut.
"Langkah ini berisiko memicu serangan lebih lanjut dari Iran dan mengancam pemulihan pasokan minyak yang sempat dimulai setelah kesepakatan damai AS-Iran bulan lalu," ungkap analis ANZ Research dalam sebuah laporan riset.
(lsi)