LANGIT7.ID, Jakarta - Islamofobia sebuah istilah yang cukup populer bagi sebagian kalangan yang fobia terhadap Islam. Kelompok ini berasal dari wilayah barat tepatnya Eropa saat Islam masuk ke wilayah itu.
Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Murodi menjelaskan awal kemunculan Islamofobia sendiri terjadi saat orang-orang Islam masuk ke wilayah Spanyol saat Bani Umayyah tengah berkuasa.
"Akan tetapi saat itu, orang-orang Spanyol tidak melakukan perlawanan kepada kekuatan umat Islam secara langsung, karena pada tahun 675 Masehi umat Islam berhasil menaklukan Spanyol," kata Murodi saat ditemui
Langit7.id, baru-baru ini.
Menurut dia, kekuatan Dinasti Bani Umayyah yang begitu kuat membuat kerajaan-kerajaan Kristen di Spanyol, saat itu tidak berani melakukan pertentangan pada umat Islam.
Baca Juga: 5 Tema Khutbah Jumat: Ancaman Hukuman Bagi Pelaku Islamofobia"Meskipun misalnya khawatir dengan perkembangan Islam yang disebut dengan Islamofobia akan tetapi tidak berani melakukan perlawanan," jelasnya.
Dosen PKU-MUI ini menjelaskan, perlawanan baru dilakukan pada 1492 Masehi, atau saat di mana Pangeran Ferdinand dan Ratu Isabella bersatu dan menjadi puncak dari perlawanan kerajaan Kristen di Eropa.
"Kemudian istilah itu muncul baru-baru ini setelah Menara Kembar di Amerika dihancurkan, yang sebenarnya bukan orang Islam tetapi direkayasa dari kelompok-kelompok tertentu," katanya.
Kelompok tersebut, kata Murodi, menyudutkan Islam sebagai salah satu aktivitas dari Islamofobia lewat propaganda dari kelompok-kelompok yang tidak suka dengan Islam.
Baca Juga: Cendekiawan Diharapkan Jadi Pengarus Utama Perangi Islamofobia"Jadi ketika mereka mendengar kata Islam mereka sudah sangat benci bahkan kemudian mereka melakukan berbagai cara untuk melawan Islam," ujarnya.
Murodi juga menyampaikan, salah satu upaya yang dapat dijalani saat ini untuk mengkonter kelompok tersebut ialah dengan cara-cara damai, dan tidak radikal.
"Sebab, dahulu lebih dahsyat dari pada sekarang yakni dilakukan dengan cara misalnya munculnya para tokoh ulama besar di Andaluasia, terus ada Istana Al Hamra sebagai bukti umat Islam menunjukan prestasinya kepada dunia," tuturnya.
Pada masa itu banyak orang-orang Kristen yang banyak belajar ke Universitas Al Hamra, yang kemudian menjadi tokoh terkenal di dunia ilmu pengetahuan masa itu.
"Selanjutnya, bisa dengan membuktikan bahwa umat Islam bukanlah musuh tetapi teman dan sahabat yang bisa diajak berdamai. Jadi kita jangan reaktif biarkan supaya kemudian mereka lelah sendiri," katanya.
Baca Juga: Baznas Konsisten Terapkan Prinsip 3A dalam Pengelolaan ZakatMurodi juga menjelaskan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sehingga cara yang harus dilakukan ialah dengan cara-cara yang damai dan bijak, tidak boleh melakukan secara anarkis.
"Kalau reaktif, kelompok mereka akan semakin punya bukti bahwa umat Islam belum apa-apa sudah menentang, serta melakukan tindakan radikal dan sebagainya," ujarnya.
Dia menambahkan, generasi muda juga berperan dalam hal ini. Dengan belajar secara bijak dan baik ilmu pengetahuan, hingga mempunyai pengetahuan yang cukup.
"Pengetahuan yang cukup untuk memberikan penjelasan kepada publik bahwa Islam tidak seperti itu. Sebab, kita harus memberikan penjelasan secara rasional bukan emosional," tuturnya.
Baca Juga: Masjid Al-Bakrie Selalu Ramai Disinggahi Pekerja Daerah Kuningan(zhd)