Penetapan Idul Fitri Potensi Beda, Negara Diminta Hadir Secara Adil dan Ihsan
Muhajirin
Senin, 17 April 2023 - 21:00 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya negara hadir secara adil dan ihsan dalam menangani perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1444 H di Indonesia.
Menurutnya, negara harus memberikan fasilitas yang sama kepada semua umat Muslim, terlepas dari perbedaan pendapat dalam menentukan awal Syawal.
Hal ini penting dilakukan untuk menjaga kerukunan umat Islam dan memastikan semua umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan sukacita. Jangan sampai perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan Syawal menjadi pemicu konflik antar umat Islam yang seharusnya merayakan hari besar ini dengan damai dan penuh kebahagiaan.
“Lebaran Idul Fitri boleh berbeda, tetapi kita bisa bersama merayakan dan melaksanakannya. Kalau besok ada perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena ini soal ijtihad, sampai nanti kita bersepakat ada kalender Islam global,” kata Haedar di Universitas Muhammadiyah Semarang (UMS), dikutip Selasa (18/4/2023).
Baca juga:Tanda-tanda Orang Mendapatkan Lailatul Qadar
Guru Besar Sosiologi ini berharap negara hadir di tengah perbedaan tersebut secara adil dan ihsan. Lebih-lebih dalam urusan keagamaan, dia tidak ingin terjadi rezimentasi agama di tubuh negara ini.
“Kalau misalkan tidak memberi fasilitas yang selama ini digunakan menjadi milik negara untuk yang berbeda seperti besok Muhammadiyah lebaran 21 April, tidak perlu bikin larangan. Syukur lebih kalau silahkan gunakan, hari ini digunakan Muhammadiyah, besok digunakan tanggal 22,” ujar Haedar.
Menurutnya, negara harus memberikan fasilitas yang sama kepada semua umat Muslim, terlepas dari perbedaan pendapat dalam menentukan awal Syawal.
Hal ini penting dilakukan untuk menjaga kerukunan umat Islam dan memastikan semua umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan sukacita. Jangan sampai perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan Syawal menjadi pemicu konflik antar umat Islam yang seharusnya merayakan hari besar ini dengan damai dan penuh kebahagiaan.
“Lebaran Idul Fitri boleh berbeda, tetapi kita bisa bersama merayakan dan melaksanakannya. Kalau besok ada perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena ini soal ijtihad, sampai nanti kita bersepakat ada kalender Islam global,” kata Haedar di Universitas Muhammadiyah Semarang (UMS), dikutip Selasa (18/4/2023).
Baca juga:Tanda-tanda Orang Mendapatkan Lailatul Qadar
Guru Besar Sosiologi ini berharap negara hadir di tengah perbedaan tersebut secara adil dan ihsan. Lebih-lebih dalam urusan keagamaan, dia tidak ingin terjadi rezimentasi agama di tubuh negara ini.
“Kalau misalkan tidak memberi fasilitas yang selama ini digunakan menjadi milik negara untuk yang berbeda seperti besok Muhammadiyah lebaran 21 April, tidak perlu bikin larangan. Syukur lebih kalau silahkan gunakan, hari ini digunakan Muhammadiyah, besok digunakan tanggal 22,” ujar Haedar.