Rekonsiliasi Negara-negara Islam Timur Tengah, Madu atau Racun?
Imam Shamsi Ali
Kamis, 25 Mei 2023 - 06:37 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Ada beberapa peristiwa global yang akhir-akhir cukup menarik perhatian kita. Selain perang Rusia vs Ukrain (baca NATO) yang masih terus berlangsung, juga isu tentang utang piutang (debt ceiling) di Amerika yang menjadi bahan “political pressure” di antara dua partai besar; Demokrat dan Republikan.
Kita juga mengikuti perhelatan akbar negara-negara besar (kaya) yang disebut G7 Group di Jepang. Indonesia dan beberapa negara “emerging economy” juga diundang hadir sebagai observer di acara yang bergengsi itu.
Tapi yang juga tidak kalah menarik untuk dibahas adalah pertemuan Liga Arab (Arab League) di Saudi Arabia dan untum pertama kalinya kembali mengikuti sertakan Presiden Basyar Al-Asad (Suriah) sejak negara itu diboikot oleh Saudi dan negara-negara anggota Liga Arab lainnya.
Tidak kalah menarik lainnya adalah tiba-tiba saja Raja Salman (Saudi Arabia) menyampaikan undangan kepada Presiden Raisi (Iran) untuk berkunjung ke negara Pelayan Dua Kota Suci Islam (Khadimul Haramain) itu. Undangan ini telah ditindak lanjuti dengan beberapa pertemuan tingkat pejabat tinggi dari kedua negara Muslim besar itu.
Baca juga:Bertemu Presiden Zelenskyy, Jokowi Tegaskan Indonesia Dukung Perdamaian di Ukraina
Diterimanya kembali Suriah atau Basyar Al-Asad untuk hadir di KTT Liga Arab maupun undangan Raja Salman ke Presiden Iran tentu cukup mengejutkan. Bahkan keterkejutan itu juga bercampur dengan kecurigaan-kecurigaan yang semoga saja tidak benar.
Madu atau Racun
Kita juga mengikuti perhelatan akbar negara-negara besar (kaya) yang disebut G7 Group di Jepang. Indonesia dan beberapa negara “emerging economy” juga diundang hadir sebagai observer di acara yang bergengsi itu.
Tapi yang juga tidak kalah menarik untuk dibahas adalah pertemuan Liga Arab (Arab League) di Saudi Arabia dan untum pertama kalinya kembali mengikuti sertakan Presiden Basyar Al-Asad (Suriah) sejak negara itu diboikot oleh Saudi dan negara-negara anggota Liga Arab lainnya.
Tidak kalah menarik lainnya adalah tiba-tiba saja Raja Salman (Saudi Arabia) menyampaikan undangan kepada Presiden Raisi (Iran) untuk berkunjung ke negara Pelayan Dua Kota Suci Islam (Khadimul Haramain) itu. Undangan ini telah ditindak lanjuti dengan beberapa pertemuan tingkat pejabat tinggi dari kedua negara Muslim besar itu.
Baca juga:Bertemu Presiden Zelenskyy, Jokowi Tegaskan Indonesia Dukung Perdamaian di Ukraina
Diterimanya kembali Suriah atau Basyar Al-Asad untuk hadir di KTT Liga Arab maupun undangan Raja Salman ke Presiden Iran tentu cukup mengejutkan. Bahkan keterkejutan itu juga bercampur dengan kecurigaan-kecurigaan yang semoga saja tidak benar.
Madu atau Racun