Tak Mau Indonesia Jadi Mustahik, Muhammadiyah Usul Ambang Batas Hutang Luar Negeri
Muhajirin
Jum'at, 09 Juni 2023 - 13:00 WIB
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengusulkan agar pemerintah Indonesia memberlakukan ambang batas hutang luar negeri pada setiap rezim pemerintahan.
Ini agar cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaulat tidak terseok akibat kebijakan pemerintah sendiri. Maka itu, penting memberlakukan ambang batas hutang luar negeri di setiap masa pemerintahan.
"Hutang harus ada ambang batas. Jangan sampai nanti melebihi takaran yang kemudian berat. Kedua, ada proyek-proyek nasional yang semula aman kemudian menjadi beban baru," ujar Haedar di laman Muhammadiyah, Jumat (9/6/2023).
Dia menyebut hutang luar negeri Indonesia yang terus berakumulasi. Hutang ini akan menjadi beban dan pengganjal bagi usaha-usaha Indonesia mewujudkan masa depan nasional yang unggul. Akumulasi hutang luar negeri Indonesia saat ini mencapai angka Rp7.000 triliun.
"Kalau satu fase (pemerintahan) berhutang dan terakumulasi, suatu saat Indonesia menjadi negara gharim (tangan di bawah), yang tutup lobang ganti lobang. Akhirnya berubah menjadi mustahik, berhak memperoleh zakat dan sedekah dari negara yang kaya. Jadi, ada pertanggungjawaban moral di sini, bukan soal aman dan tidak aman," ujarnya.
Baca juga:Ketum Muhammadiyah: Indonesia Bukan Benda Mati yang Bisa Dikuasai Sepihak Siapapun
Meski begitu, Haedar menaruh optimisme pada gagasan ekonomi baru pemerintah Indonesia pascapandemi. Itu sesuai visi agenda pembangunan berkelanjutan (SDG's) 2030.
Ini agar cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaulat tidak terseok akibat kebijakan pemerintah sendiri. Maka itu, penting memberlakukan ambang batas hutang luar negeri di setiap masa pemerintahan.
"Hutang harus ada ambang batas. Jangan sampai nanti melebihi takaran yang kemudian berat. Kedua, ada proyek-proyek nasional yang semula aman kemudian menjadi beban baru," ujar Haedar di laman Muhammadiyah, Jumat (9/6/2023).
Dia menyebut hutang luar negeri Indonesia yang terus berakumulasi. Hutang ini akan menjadi beban dan pengganjal bagi usaha-usaha Indonesia mewujudkan masa depan nasional yang unggul. Akumulasi hutang luar negeri Indonesia saat ini mencapai angka Rp7.000 triliun.
"Kalau satu fase (pemerintahan) berhutang dan terakumulasi, suatu saat Indonesia menjadi negara gharim (tangan di bawah), yang tutup lobang ganti lobang. Akhirnya berubah menjadi mustahik, berhak memperoleh zakat dan sedekah dari negara yang kaya. Jadi, ada pertanggungjawaban moral di sini, bukan soal aman dan tidak aman," ujarnya.
Baca juga:Ketum Muhammadiyah: Indonesia Bukan Benda Mati yang Bisa Dikuasai Sepihak Siapapun
Meski begitu, Haedar menaruh optimisme pada gagasan ekonomi baru pemerintah Indonesia pascapandemi. Itu sesuai visi agenda pembangunan berkelanjutan (SDG's) 2030.