Haji Itu Miniatur Kehidupan
Tim langit 7
Jum'at, 30 Juni 2023 - 05:46 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Tak tersangkal lagi bahwa selain sebagai representasi kesempurnaan Islam (kamaliat al-Islam), haji juga sekaligus menjadi gambaran kehidupan manusia secara totalitas. Mungkin tepatnya, haji adalah miniatur kehidupan atau gambaran kecil dari “life cycles” (seluruh rangkaian perputaran kehidupan man usia).
Kita mulai dengan persiapan-persiapan haji yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam hidupnya manusia mempersiapkan diri secara fisikal (material), intellektual (ilmu dan akal) maupun persiapan spiritual (ruhiyah). Dalam prosesnya persiapan haji juga menuntut ketiga hal itu. Persiapan itu menjadi penting karena sebagaimana haji adalah perjalanan, kehidupan manusia sesungguhnya juga adalah “perjalanan”.
Para pelaku haji (hujjaj) kemudian memulai perjalanan ibadahnya itu dengan sebuah ritual yang disebut “ihram”. Ihram adalah terminologi yang disematkan kepada niatan jamaah untuk memulai ibadah itu. Niat haji (dan umrah) disebut ihram karena perjalanan hidup manusia juga dimulai dengan ihram. Ihram diartikan “kesucian” atau “kehormatan”. Awal dari perjalanan hidup manusia dengan kesucian itu (fitrah).
Jamaah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Mina untuk tarwiyah. Di sini jamaah seolah melakonkan kelahiran (milad) untuk memulai perjalanan ibadahnya. Tarwiyah yang berarti memberikan minum, menyimbolkan jika kehidupan itu perlu air. Karena air adalah sumber kehidupan. Baik air dari bumi maupun air samawi.
Pada tanggal 9 Dzulhijjah di pagi hari jamaah haji memulai perjalanan menuju Arafah untuk melakukan amalan haji yang terpenting.
Presiden Nusantara Foundation
Tak tersangkal lagi bahwa selain sebagai representasi kesempurnaan Islam (kamaliat al-Islam), haji juga sekaligus menjadi gambaran kehidupan manusia secara totalitas. Mungkin tepatnya, haji adalah miniatur kehidupan atau gambaran kecil dari “life cycles” (seluruh rangkaian perputaran kehidupan man usia).
Kita mulai dengan persiapan-persiapan haji yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam hidupnya manusia mempersiapkan diri secara fisikal (material), intellektual (ilmu dan akal) maupun persiapan spiritual (ruhiyah). Dalam prosesnya persiapan haji juga menuntut ketiga hal itu. Persiapan itu menjadi penting karena sebagaimana haji adalah perjalanan, kehidupan manusia sesungguhnya juga adalah “perjalanan”.
Para pelaku haji (hujjaj) kemudian memulai perjalanan ibadahnya itu dengan sebuah ritual yang disebut “ihram”. Ihram adalah terminologi yang disematkan kepada niatan jamaah untuk memulai ibadah itu. Niat haji (dan umrah) disebut ihram karena perjalanan hidup manusia juga dimulai dengan ihram. Ihram diartikan “kesucian” atau “kehormatan”. Awal dari perjalanan hidup manusia dengan kesucian itu (fitrah).
Jamaah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Mina untuk tarwiyah. Di sini jamaah seolah melakonkan kelahiran (milad) untuk memulai perjalanan ibadahnya. Tarwiyah yang berarti memberikan minum, menyimbolkan jika kehidupan itu perlu air. Karena air adalah sumber kehidupan. Baik air dari bumi maupun air samawi.
Pada tanggal 9 Dzulhijjah di pagi hari jamaah haji memulai perjalanan menuju Arafah untuk melakukan amalan haji yang terpenting.