GP Ansor Kecam Aksi Pembakaran Al-Qur'an di Swedia
Tim langit 7
Senin, 03 Juli 2023 - 07:10 WIB
Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Abdul Rochman. Foto/ist
Aksi Salwan Momika membakar Al-Quran di Swedia terus menuai kecaman. Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengecam keras aksi itu.
Aksi yang dilakukan di depan Masjid Raya Sodermalm, Stockholm, Swedia dan bertepatan dengan perayaan Idul Adha itu berpotensi mengganggu harmoni kehidupan beragama di dunia.
"Kami mengecam keras aksi Salwan Monika ini. Aksi ini adalah bentuk nyata tindakan yang dapat mengganggu harmoni kehidupan beragama," tegas Sekretaris Jenderal PP GP Ansor, Abdul Rochman mengutip NU Online, Senin (3/7/2023).
Baca juga:MUI Kecam Pembakaran Al-Qur'an di Swedia, Bukan Kebebasan Ekspresi
Pria yang akrab dipanggil Adung ini menambahkan, di tengah kampanye dan berbagai upaya mewujudkan harmoni kehidupan beragama yang didorong oleh NU, aksi Salwan ini sangat mengganggu.
"Salah satu hasil Pertemuan R20 yang diselenggarakan NU adalah berupaya mendorong saling pengertian, budaya damai, dan hidup berdampingan dengan harmonis di tengah keragaman masyarakat, agama, dan bangsa di dunia. Tentu aksi Salwan ini sangat disayangkan," terangnya.
Atas nama demokrasi dan kebebasan, sambung Adung, tidak bisa dijadikan alasan pembenar aksi Salwan Monika. Kebebasan harus dilandasi dengan komitmen menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain.
Aksi yang dilakukan di depan Masjid Raya Sodermalm, Stockholm, Swedia dan bertepatan dengan perayaan Idul Adha itu berpotensi mengganggu harmoni kehidupan beragama di dunia.
"Kami mengecam keras aksi Salwan Monika ini. Aksi ini adalah bentuk nyata tindakan yang dapat mengganggu harmoni kehidupan beragama," tegas Sekretaris Jenderal PP GP Ansor, Abdul Rochman mengutip NU Online, Senin (3/7/2023).
Baca juga:MUI Kecam Pembakaran Al-Qur'an di Swedia, Bukan Kebebasan Ekspresi
Pria yang akrab dipanggil Adung ini menambahkan, di tengah kampanye dan berbagai upaya mewujudkan harmoni kehidupan beragama yang didorong oleh NU, aksi Salwan ini sangat mengganggu.
"Salah satu hasil Pertemuan R20 yang diselenggarakan NU adalah berupaya mendorong saling pengertian, budaya damai, dan hidup berdampingan dengan harmonis di tengah keragaman masyarakat, agama, dan bangsa di dunia. Tentu aksi Salwan ini sangat disayangkan," terangnya.
Atas nama demokrasi dan kebebasan, sambung Adung, tidak bisa dijadikan alasan pembenar aksi Salwan Monika. Kebebasan harus dilandasi dengan komitmen menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain.