Politik Identitas Muncul Tiap Pemilu, Ternyata Ini Akarnya
Tim langit 7
Sabtu, 05 Agustus 2023 - 09:00 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan menjelang pemilihan umum (pemilu) 2024, politik identitas kerap menjadi pembicaraan. Sebagian orang melihat politik identitas dapat mendorong bahaya sipil bagi masyarakat.
Hal ini disampaikan saat pidato kunci peluncuran buku prosiding G20 Religion Forum atau R20 Proceedings of the R20 International Summit of Religious Leaders di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (4/8/2023).
"Seperti yang kita alami dalam pemilihan terakhir setidaknya dua kali pemilihan umum terakhir, adalah pengalaman yang sangat sangat buruk terkait dengan politik identitas. Orang menggunakan agama sebagai senjata untuk mendapatkan keuntungan, dukungan politik dan untuk saling menyerang satu sama lain," kata Gus Yahya dikutip dari NU Online, Sabtu (5/8/2023).
Menurutnya, persoalan ini memiliki akar yang sangat dalam pada ajaran agama itu sendiri. Para penganut agama, Islam misalnya, akan bertanya jika politik identitas itu tidak baik atau bahkan dilarang, lalu apakah tidak baik membawa agama ke ruang publik dan sosial.
"Karena membawa agama ke dalam politik sebenarnya berasal dari dorongan insting pemeluk agama untuk membawa agamanya ke ruang publik dan sosial," ucap Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
Sementara itu, tak sedikit pula yang mempercayai bahwa agama harus dibiarkan berada di ruang pribadi individu. Logika tersebut mengungkapkan seolah-olah ketika agama dibawa ke ruang publik akan menimbulkan persaingan antaragama.
"Saling bertarung memperebutkan dominasi ruang publik dan sosial. Hal semacam ini jelas bagi kita. Berbahaya membiarkan agama saling berebut untuk mendominasi ruang publik," kata dia.
Hal ini disampaikan saat pidato kunci peluncuran buku prosiding G20 Religion Forum atau R20 Proceedings of the R20 International Summit of Religious Leaders di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (4/8/2023).
"Seperti yang kita alami dalam pemilihan terakhir setidaknya dua kali pemilihan umum terakhir, adalah pengalaman yang sangat sangat buruk terkait dengan politik identitas. Orang menggunakan agama sebagai senjata untuk mendapatkan keuntungan, dukungan politik dan untuk saling menyerang satu sama lain," kata Gus Yahya dikutip dari NU Online, Sabtu (5/8/2023).
Menurutnya, persoalan ini memiliki akar yang sangat dalam pada ajaran agama itu sendiri. Para penganut agama, Islam misalnya, akan bertanya jika politik identitas itu tidak baik atau bahkan dilarang, lalu apakah tidak baik membawa agama ke ruang publik dan sosial.
"Karena membawa agama ke dalam politik sebenarnya berasal dari dorongan insting pemeluk agama untuk membawa agamanya ke ruang publik dan sosial," ucap Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
Sementara itu, tak sedikit pula yang mempercayai bahwa agama harus dibiarkan berada di ruang pribadi individu. Logika tersebut mengungkapkan seolah-olah ketika agama dibawa ke ruang publik akan menimbulkan persaingan antaragama.
"Saling bertarung memperebutkan dominasi ruang publik dan sosial. Hal semacam ini jelas bagi kita. Berbahaya membiarkan agama saling berebut untuk mendominasi ruang publik," kata dia.