Mohammad Roem, Diplomat Muslim Peletak Kunci Kedaulatan RI yang Terlupakan
Muhajirin
Senin, 30 Agustus 2021 - 13:20 WIB
Mohammad Roem dalam salah satu aktivitas diplomasinya (foto: Arsip Nasional RI)
Mohammad Roem adalah salah satu diplomat di awal masa kemerdekaan yang punya banyak andil dalam menjaga kedaulatan negara baru bernama Republik Indonesia.
Dia adalah potret politisi muslim yang mampu menjadi diplomat yang disegani dalam negeri maupun luar negeri. Mohammad Roem lahir di Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada 16 Mei 1908. Beliau wafat di Jakarta 24 September 1083 (usia 75 tahun).
Pada 1915, Mohammad Roem menempuh pendidikan di Volksschool dan dua tahun kemudian melanjutkan ke Hollandse Inlandsche Sekolah sampai 1924. Setelah itu ia menerima beasiswa belajar di School tot Opleiding van Indische Artsen.
Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan ujian tahap pendahuluan dan dikirim ke Algemene Middelbare Sekolah dan lulus pada 1930. Ia pernah mengikuti tes Kedokteran Perguruan tinggi, namun gagal. Ia lalu mengambil sekolah hukum di Rechtshoogeschool te Batavia pada 1932 dan memperoleh gelar Meester in de Rechten pada 1939.
Sebagai pejabat negara, ia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet Sjahrir III, Menteri Luar Negeri selama Kabinet Natsir, Menteri Dalam Negeri selama Kabinet Wilopo, dan Wakil Perdana Menteri semakin selama Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Tantangan Perjuangan Diplomasi dan Politik
Dia adalah potret politisi muslim yang mampu menjadi diplomat yang disegani dalam negeri maupun luar negeri. Mohammad Roem lahir di Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada 16 Mei 1908. Beliau wafat di Jakarta 24 September 1083 (usia 75 tahun).
Pada 1915, Mohammad Roem menempuh pendidikan di Volksschool dan dua tahun kemudian melanjutkan ke Hollandse Inlandsche Sekolah sampai 1924. Setelah itu ia menerima beasiswa belajar di School tot Opleiding van Indische Artsen.
Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan ujian tahap pendahuluan dan dikirim ke Algemene Middelbare Sekolah dan lulus pada 1930. Ia pernah mengikuti tes Kedokteran Perguruan tinggi, namun gagal. Ia lalu mengambil sekolah hukum di Rechtshoogeschool te Batavia pada 1932 dan memperoleh gelar Meester in de Rechten pada 1939.
Sebagai pejabat negara, ia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet Sjahrir III, Menteri Luar Negeri selama Kabinet Natsir, Menteri Dalam Negeri selama Kabinet Wilopo, dan Wakil Perdana Menteri semakin selama Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Tantangan Perjuangan Diplomasi dan Politik