Orang Kuat Versi Rasulullah SAW, Mampu Tahan Diri Saat Marah
Muhajirin
Kamis, 10 Agustus 2023 - 15:00 WIB
ilustrasi
Menjadi pribadi yang mampu menahan amarah merupakan sebuah pencapaian mulia, mengukuhkan seorang muslim sebagai individu yang penuh ketakwaan. Kemampuan ini bukan hanya tentang menghindari ledakan emosi, melainkan juga tentang menjaga harmoni dengan sesama.
Marah bukan hal yang perlu dihilangkan, tetapi dikendalikan atau diproporsionalkan. Puncaknya adalah kemampuan untuk marah bukan karena diri sendiri, melainkan karena agama. Menahan amarah sebagai akhlak mulia ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 133-134.
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 133-134).
Termasuk juga dalil yang menegaskan kebaikan sifat menahan amarah yakni, Rasulullah SAW bersabda, "Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi, orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." (Muttafaq 'Alaihi: Hadits Shahih Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609)
Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, beberapa faktor yang memicu kemudahan marah. Di antaranya lemahnya diri dan kapasitas intelektual yang terbatas, membuat kesulitan dalam menemukan solusi yang tepat.
"Proses pembiasaan dari lingkungan yang tidak baik juga berperan, terutama jika tumbuh dalam keluarga yang pemarah," kata Ustadz Fauzi dalam Kajian Akhlak dan Adab Formula Hati, dikutip Kamis (10/8/2023).
Selain itu, mudah marah juga bisa dipengaruhi perbuatan maksiat dapat mengerasi hati, menjauhkannya dari kelembutan dan merangsang kemarahan. Terlalu besar harapan pada orang lain, komunikasi yang tidak efektif, dan target yang padat juga dapat menjadi pemicu kemarahan.
Marah bukan hal yang perlu dihilangkan, tetapi dikendalikan atau diproporsionalkan. Puncaknya adalah kemampuan untuk marah bukan karena diri sendiri, melainkan karena agama. Menahan amarah sebagai akhlak mulia ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 133-134.
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 133-134).
Termasuk juga dalil yang menegaskan kebaikan sifat menahan amarah yakni, Rasulullah SAW bersabda, "Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi, orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." (Muttafaq 'Alaihi: Hadits Shahih Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609)
Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, beberapa faktor yang memicu kemudahan marah. Di antaranya lemahnya diri dan kapasitas intelektual yang terbatas, membuat kesulitan dalam menemukan solusi yang tepat.
"Proses pembiasaan dari lingkungan yang tidak baik juga berperan, terutama jika tumbuh dalam keluarga yang pemarah," kata Ustadz Fauzi dalam Kajian Akhlak dan Adab Formula Hati, dikutip Kamis (10/8/2023).
Selain itu, mudah marah juga bisa dipengaruhi perbuatan maksiat dapat mengerasi hati, menjauhkannya dari kelembutan dan merangsang kemarahan. Terlalu besar harapan pada orang lain, komunikasi yang tidak efektif, dan target yang padat juga dapat menjadi pemicu kemarahan.