Mahfud MD: Nasionalisme Bagi Warga Pesantren Bagian dari Cabang Iman
Muhajirin
Sabtu, 19 Agustus 2023 - 23:00 WIB
Menko Polhukam, Prof H Mohammad Mahfud Mahmodin (MD), menilai nasionalisme warga pesantren tidak perlu diragukan lagi
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof H Mohammad Mahfud Mahmodin (MD), menilai nasionalisme warga pesantren tidak perlu diragukan lagi. Bagi warga pesantren, nasionalisme bagian dari cabang iman.
Dia mencontohkan semangat nasionalisme warga pesantren melalui syair-syair yang diciptakan para tokoh pesantren. Misalnya lirik syair Syubbanul Wathan atau populer dengan sebutan Ya Lal Wathan yang dugubah oleh KH Abdu Wahab Chasbullah.
Mahfud MD mengatakan, lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan pada setiap acara seremonial di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama sangat terasa 'nyambung' jika dilanjut dengan Ya Lal Wathan.
Hal itu dikarenakan kedua lagu tersebut merupakan tanda kecintaan kepada Tanah Air. Dia kemudian memaknai secara bebas lirik Ya Lal Wathan mempunyai semangat nasionalisme yang lahir dari pesantren.
"Ya Lal Wathan, Ya Lal Wathan. Hubbul wathan minal iman. Kalau diterjemahkan bebas: aduhai tanah airku, aduhai tanah airku, mencintai tanah air itu bagian dari iman. Itu nasionalisme yang paling tinggi, yang lahir dari semangat kepesantrenan," jelas Mahfud dalam Resepsi Puncak Haul Almaruhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, dikutip Sabtu (19/8/2023).
Dia menegaskan, nasionalisme bagi warga pesantren bukan termasuk rukun iman. Itu karena rukun iman sudah ditetapkan ada enam. Tetapi, nasionalisme kepesantrenan itu merupakan bagian dari cabang-cabang iman.
"Karena saya ingin beribadah harus punya Tanah Air, Tanah Air ini harus dicintai. Maka disebut Indonesia biladi anta unwanul fakhama: Indonesia negeriku, engkau adalah tanda kehormatanku. Kemudian kullu man ya'tika yauman thamihan yalqa himama: barangsiapa yang datang mengganggumu akan kusikat habis, kujatuhkan di bawah dulimu," ujar Mahfud.
Dia mencontohkan semangat nasionalisme warga pesantren melalui syair-syair yang diciptakan para tokoh pesantren. Misalnya lirik syair Syubbanul Wathan atau populer dengan sebutan Ya Lal Wathan yang dugubah oleh KH Abdu Wahab Chasbullah.
Mahfud MD mengatakan, lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan pada setiap acara seremonial di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama sangat terasa 'nyambung' jika dilanjut dengan Ya Lal Wathan.
Hal itu dikarenakan kedua lagu tersebut merupakan tanda kecintaan kepada Tanah Air. Dia kemudian memaknai secara bebas lirik Ya Lal Wathan mempunyai semangat nasionalisme yang lahir dari pesantren.
"Ya Lal Wathan, Ya Lal Wathan. Hubbul wathan minal iman. Kalau diterjemahkan bebas: aduhai tanah airku, aduhai tanah airku, mencintai tanah air itu bagian dari iman. Itu nasionalisme yang paling tinggi, yang lahir dari semangat kepesantrenan," jelas Mahfud dalam Resepsi Puncak Haul Almaruhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, dikutip Sabtu (19/8/2023).
Dia menegaskan, nasionalisme bagi warga pesantren bukan termasuk rukun iman. Itu karena rukun iman sudah ditetapkan ada enam. Tetapi, nasionalisme kepesantrenan itu merupakan bagian dari cabang-cabang iman.
"Karena saya ingin beribadah harus punya Tanah Air, Tanah Air ini harus dicintai. Maka disebut Indonesia biladi anta unwanul fakhama: Indonesia negeriku, engkau adalah tanda kehormatanku. Kemudian kullu man ya'tika yauman thamihan yalqa himama: barangsiapa yang datang mengganggumu akan kusikat habis, kujatuhkan di bawah dulimu," ujar Mahfud.