KH Miftachul Akhyar: Semua yang Kita Miliki Harus Ada Infaqnya
Tim langit 7
Senin, 04 September 2023 - 12:00 WIB
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan, rezeki bukan hanya uang. Ilmu juga termasuk rezeki, karena rezeki memiliki arti setiap yang bisa dimanfaatkan.
Kiai Miftach mengungkapkan, apapun yang dimiliki, baik rezeki dhahir maupun rezeki ilmu harus ada nilai infaq di dalamnya.
“Jadi, apapun yang kita punya harus ada nilai infaqnya, baik berupa infaq rezeki dhahir, maupun rezeki ilmu, dan lain sebagainya. Setiap yang bisa dimanfaatkan itu namanya rezeki. Ilmu dimanfaatkan, makanan dimanfaatkan, baju dimanfaatkan,” ujarnya diakses NU Online di YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Sabtu (9/2/2023).
Ia menjelaskan, rezeki dibagi menjadi dua, yaitu rezeki halal dan rezeki haram. Rezeki haram pun termasuk ke dalam rezeki di mana yang haram adalah cara mendapatkannya. Sementara rezeki baik yang halal atau haram itu tidak lepas dari apa yang ditulis oleh malaikat saat 40 hari yang ketiga di rahim ibu.
Baca juga:Istikharah Kiai Jadi Petunjuk Cak Imin Terima Tawaran Cawapres
“Sebenarnya rezeki kita itu sudah dibagi habis oleh Allah, nggak tambah, nggak kurang. Hanya saja ada orang nggak tahan, akhirnya ambil milik orang lain, mencuri milik orang lain. Padahal yang diambil itu sebenarnya rezekinya sendiri. Hanya caranya yang salah, ambilnya dengan cara yang salah, akhirnya jadi haram,” imbuhnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menegaskan bahwa apapun yang bisa gunakan, bisa dimakan, bisa dipakai, bisa dihabiskan itu namanya rezeki. Kemudian jika manusia dapat menerapkan rezeki yang dimilikinya dengan baik, tidak akan saling menuntut, iri, dan lain sebagainya.
Kiai Miftach mengungkapkan, apapun yang dimiliki, baik rezeki dhahir maupun rezeki ilmu harus ada nilai infaq di dalamnya.
“Jadi, apapun yang kita punya harus ada nilai infaqnya, baik berupa infaq rezeki dhahir, maupun rezeki ilmu, dan lain sebagainya. Setiap yang bisa dimanfaatkan itu namanya rezeki. Ilmu dimanfaatkan, makanan dimanfaatkan, baju dimanfaatkan,” ujarnya diakses NU Online di YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Sabtu (9/2/2023).
Ia menjelaskan, rezeki dibagi menjadi dua, yaitu rezeki halal dan rezeki haram. Rezeki haram pun termasuk ke dalam rezeki di mana yang haram adalah cara mendapatkannya. Sementara rezeki baik yang halal atau haram itu tidak lepas dari apa yang ditulis oleh malaikat saat 40 hari yang ketiga di rahim ibu.
Baca juga:Istikharah Kiai Jadi Petunjuk Cak Imin Terima Tawaran Cawapres
“Sebenarnya rezeki kita itu sudah dibagi habis oleh Allah, nggak tambah, nggak kurang. Hanya saja ada orang nggak tahan, akhirnya ambil milik orang lain, mencuri milik orang lain. Padahal yang diambil itu sebenarnya rezekinya sendiri. Hanya caranya yang salah, ambilnya dengan cara yang salah, akhirnya jadi haram,” imbuhnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menegaskan bahwa apapun yang bisa gunakan, bisa dimakan, bisa dipakai, bisa dihabiskan itu namanya rezeki. Kemudian jika manusia dapat menerapkan rezeki yang dimilikinya dengan baik, tidak akan saling menuntut, iri, dan lain sebagainya.