Peran Al-Quran Selesaikan Masalah Sosial Masyarakat
Muhajirin
Rabu, 11 Oktober 2023 - 15:00 WIB
Kitab suci Al Quran.
Perdebatan mengenai sebuah isu merupakan masalah yang mengganggu masyarakat. Namun, hal itu bukan pokok masalah dari masalah itu sendiri. Hal tersebut merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam dan lebih serius di dalam diri manusia.
Akarnya adalah kurangnya spiritualitas dan kemurnian spiritual di dalam diri. Ketika seseorang berdebat, terutama dalam masalah iman, ada penyakit yang mendasari di dalam hati yang memicu argumentasi, keinginan untuk membuktikan bahwa lawannya salah, untuk memuaskan ego dan untuk membuktikan nilai seseorang dengan meremehkan orang lain.
Mansoor Ahmed, seorang penulis di About Islam, mengatakan, kondisi demikian kian diperindah oleh setan saat seseorang seolah memperjuangkan kebenaran. Apalagi, jika sudah ada anggapan orang lain salah, sehingga terbetik niat untuk membimbingnya.
“Sikap ini menumbuhkan ketidakpedulian terhadap orang lain, dan mengarah pada penghinaan dan perselisihan di antara orang-orang. Ironisnya, hal ini sangat jauh dari arahan Al-Quran. Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa hal ini terjadi adalah karena kurangnya hubungan spiritual dengan Al-Quran dan pesan Ilahi yang tertanam di dalamnya,” kata Mansoor.
"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS Yunus: 57)
Ini alasan Al-Qur’an sangat penting bagi perkembangan spiritual seseorang. Al-Qur’an akan terus membimbing manusia mengingat Allah SWT, mengingatkan tentang sifat dunia yang sementara, tentang kematian, tentang kebangkitan, hari kiamat, serta tentang surga dan neraka. Al-Quran menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif.
Sesuatu yang merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman tidak dapat menjadi sesuatu yang berlawanan dengan itu. Inilah sebabnya mengapa Khalifah Utsman bin Affan berkata, "Jika hati kita benar-benar murni, kita tidak akan pernah merasa cukup dengan Firman Tuhan kita, dan saya benci jika satu hari berlalu tanpa membaca Al-Quran."
Akarnya adalah kurangnya spiritualitas dan kemurnian spiritual di dalam diri. Ketika seseorang berdebat, terutama dalam masalah iman, ada penyakit yang mendasari di dalam hati yang memicu argumentasi, keinginan untuk membuktikan bahwa lawannya salah, untuk memuaskan ego dan untuk membuktikan nilai seseorang dengan meremehkan orang lain.
Mansoor Ahmed, seorang penulis di About Islam, mengatakan, kondisi demikian kian diperindah oleh setan saat seseorang seolah memperjuangkan kebenaran. Apalagi, jika sudah ada anggapan orang lain salah, sehingga terbetik niat untuk membimbingnya.
“Sikap ini menumbuhkan ketidakpedulian terhadap orang lain, dan mengarah pada penghinaan dan perselisihan di antara orang-orang. Ironisnya, hal ini sangat jauh dari arahan Al-Quran. Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa hal ini terjadi adalah karena kurangnya hubungan spiritual dengan Al-Quran dan pesan Ilahi yang tertanam di dalamnya,” kata Mansoor.
"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS Yunus: 57)
Ini alasan Al-Qur’an sangat penting bagi perkembangan spiritual seseorang. Al-Qur’an akan terus membimbing manusia mengingat Allah SWT, mengingatkan tentang sifat dunia yang sementara, tentang kematian, tentang kebangkitan, hari kiamat, serta tentang surga dan neraka. Al-Quran menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif.
Sesuatu yang merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman tidak dapat menjadi sesuatu yang berlawanan dengan itu. Inilah sebabnya mengapa Khalifah Utsman bin Affan berkata, "Jika hati kita benar-benar murni, kita tidak akan pernah merasa cukup dengan Firman Tuhan kita, dan saya benci jika satu hari berlalu tanpa membaca Al-Quran."