Politik Beragama, Agama tak Boleh Dijadikan Alat Merebut Kekuasaan
Muhajirin
Jum'at, 03 November 2023 - 09:00 WIB
ilustrasi
Peneliti di Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS), Ahmad Kholili Hasib, menjelaskan, ketaatan kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh ketaatan kepada partai politik. Tuhan dalam Islam merupakan otoritas tertinggi.
Dia menjelaskan, sejak Indonesia berdiri hingga saat ini pertimbangan agama menjadi sangat penting untuk diperhitungkan. Dalam perjalanan politik Indonesia, selalu ada faksi-faksi yang berbeda; faksi nasionalis, sekular dan religius. Namun, hampir setiap politikus, sekular sekalipun, tetap mempertimbangkan dimensi-dimensi religius.
Cara-cara membuang agama biasa dilakukan faksi sekular. Salah satu caranya dengan membuang agama dari politik. Cara ini barangkali cukup mudah. Dengan alat media massa, maka dibuat rekayasa fakta bahwa agama biang rusuh, sumber radikalisme, sumber keterbelakangan, memecah belah bangsa dan anti kebinekaan. Semua itu rekayasa saja belaka tidak pernah terbukti.
Sekeras apapun penolakan faksi sekular terhadap nilai-nilai religius dalam bernegara, mereka tetap mendekat kepada faksi religius. Bahkan, kerap kali memakai baju religius. Agama tetap menjadi daya tarik luar biasa.
“Hampir pasti sama yang pernah diucapkan oleh Akbar S. Ahmed bahwa bagi postmodernisme agama sudah hampir kiamat. Ternyata, di zaman postmodern agama malah semakin marak,” kata Kholil di akun media sosial, Kamis (2/11/2023).
Baca juga:China Hapus Israel dari Peta Dunia Online di Baidu dan Alibaba
Tesis bahwa agama di zaman postmodern itu mati ternyata tidak terbukti. Maka, politisi sekular juga mempertimbangkan agama sebagai faktor politik yang sangat penting. Kaum religius menjadi komunitas yang menjadi daya tarik.
Dia menjelaskan, sejak Indonesia berdiri hingga saat ini pertimbangan agama menjadi sangat penting untuk diperhitungkan. Dalam perjalanan politik Indonesia, selalu ada faksi-faksi yang berbeda; faksi nasionalis, sekular dan religius. Namun, hampir setiap politikus, sekular sekalipun, tetap mempertimbangkan dimensi-dimensi religius.
Cara-cara membuang agama biasa dilakukan faksi sekular. Salah satu caranya dengan membuang agama dari politik. Cara ini barangkali cukup mudah. Dengan alat media massa, maka dibuat rekayasa fakta bahwa agama biang rusuh, sumber radikalisme, sumber keterbelakangan, memecah belah bangsa dan anti kebinekaan. Semua itu rekayasa saja belaka tidak pernah terbukti.
Sekeras apapun penolakan faksi sekular terhadap nilai-nilai religius dalam bernegara, mereka tetap mendekat kepada faksi religius. Bahkan, kerap kali memakai baju religius. Agama tetap menjadi daya tarik luar biasa.
“Hampir pasti sama yang pernah diucapkan oleh Akbar S. Ahmed bahwa bagi postmodernisme agama sudah hampir kiamat. Ternyata, di zaman postmodern agama malah semakin marak,” kata Kholil di akun media sosial, Kamis (2/11/2023).
Baca juga:China Hapus Israel dari Peta Dunia Online di Baidu dan Alibaba
Tesis bahwa agama di zaman postmodern itu mati ternyata tidak terbukti. Maka, politisi sekular juga mempertimbangkan agama sebagai faktor politik yang sangat penting. Kaum religius menjadi komunitas yang menjadi daya tarik.