LANGIT7.ID- Di antara kisah-kisah Al-Qur’an yang paling sering memancing spekulasi sejarah, mungkin tak ada yang sepopuler Dzulqarnain. Raja saleh yang disebut dalam Surah Al-Kahfi itu kerap dilekatkan pada nama-nama besar: Aleksander Agung, Cyrus the Great, hingga tokoh mitologis. Namun, sebagaimana diingatkan Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam
Fatawa Qardhawi, pencarian identitas sang raja lebih banyak memantulkan hasrat manusia pada kepastian ketimbang tuntunan moral yang menjadi inti kisahnya.
Dalam buku terbitan 1996 itu, Qardhawi mengikuti garis tafsir yang telah lama ditempuh ulama klasik: Al-Qur’an tidak sedang menyodorkan biografi. Yang ditawarkan adalah pelajaran, bukan dokumentasi sejarah. Ia menggemakan pendapat mufasir seperti al-Razi dan al-Alusi, yang menekankan bahwa rincian personil dan geografis yang absen dari teks justru disengaja—agar fokus berpindah ke nilai, bukan lokasi.
Beberapa akademisi modern mengambil posisi serupa. Dalam studinya tentang narasi Al-Qur’an, Angelika Neuwirth mencatat bahwa kisah-kisah semacam ini berfungsi sebagai horizon etik: sebuah cermin yang menyoroti perjumpaan manusia dengan kekuasaan, tanggung jawab, dan keterbatasannya. Karen Armstrong menyebutnya sebagai "truth deeper than fact". Teks suci, kata Armstrong, mengajari manusia bukan lewat kronologi, tetapi simbol.
Dalam tafsir Qardhawi, Dzulqarnain adalah model raja ideal. Ia memiliki kekuasaan luas—digambarkan mencapai titik-titik metaforis tempat terbit dan terbenamnya matahari—namun tetap menekuk lutut pada nilai keadilan. Saat menghadapi bangsa yang berbuat zalim, jawabannya lugas: hukum dijatuhkan, tetapi tanpa klaim absolut atas apa yang hanya Tuhan yang tahu. Ketika menghadapi masyarakat yang lemah—termasuk yang kelak digambarkan dekat dengan Ya’juj dan Ma’juj—tindakannya terukur, konstruktif, dan jauh dari hasrat memamerkan kekuatan pribadi.
Di sinilah letak pentingnya kisah itu bagi Qardhawi. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan, betapapun luas, mesti berangkat dari kesadaran bahwa semua hanya titipan. Ini sejalan dengan pembacaan Fazlur Rahman terhadap narasi Al-Qur’an: kepemimpinan bukan status ontologis, melainkan amanah moral yang sewaktu-waktu dapat dicabut.
Interpretasi terhadap ayat "matahari terbenam di mata air hitam" juga menggelitik pembaca modern. Bagi sebagian pemikir kontemporer, ini adalah kesempatan mempertemukan teks dengan fenomena visual. Seperti dicatat ilmuwan Muslim abad ke-20, Muhammad Asad, ayat itu secara eksplisit menggunakan sudut pandang manusia: matahari tampak seakan terbenam ke dalam air, sebagaimana yang lazim terlihat di pantai manapun. Al-Qur’an berbicara dalam bahasa penglihatan, bukan astronomi.
Qardhawi mengulangi garis tafsir itu. Tidak ada matahari yang benar-benar benam ke lautan; yang ada adalah pengalaman pandang. Pelajaran sebenarnya terletak pada perjalanan yang membawa Dzulqarnain ke ujung-ujung dunia: titik ekstrem tempat seseorang diuji oleh pengaruh kekuasaan, jarak, dan kemungkinan penyalahgunaan wewenang.
Narasi tentang bendungan Dzulqarnain—yang kelak dikaitkan dengan Ya’juj dan Ma’juj—pun tak dilebihkan. Qardhawi menolak rincian spekulatif yang jamak ditemukan dalam literatur populer. Sikap itu sejalan dengan pendekatan akademik yang memperingatkan bahaya "historisasi agresif" terhadap teks spiritual. Christian Robin, sejarawan Arab pra-Islam, menyebutnya sebagai kecenderungan mencomot fragmen mitos untuk disulap menjadi catatan geopolitik. Padahal, fungsi awalnya bukan itu.
Dengan demikian, kisah Dzulqarnain adalah medan tarik-menarik antara misteri dan ajaran. Bukan tanpa alasan Surah Al-Kahfi menutupnya dengan pengakuan sang raja bahwa semua pencapaian berasal dari rahmat Tuhan—dan bahwa bendungan yang tampak kokoh pun akan rata ketika waktunya tiba. Sebuah pesan tentang kefanaan struktur dunia, bahkan yang dibangun oleh pemimpin paling adil.
Qardhawi mengajak pembaca kembali ke inti: kita tak diminta menuntaskan teka-teki sejarah. Kita diminta meneladani karakter. Dalam masyarakat yang kerap memuja kepastian, pendekatan ini terasa jernih sekaligus menantang. Kisah itu tetap terbuka—dan justru di situlah daya hidupnya.
(mif)