Kemenangan Itu Nyata!
Tim langit 7
Jum'at, 10 November 2023 - 08:00 WIB
ilustrasi
Penyerangan pejuang Palestina di tanggal 7 Oktober lalu yang disebut sebagai “surprise attack” itu ternyata menjadi memomentum yang lebih dahsyat akan kemenangan yang nyata (fathun mubinan). Kesimpulan ini bukan saja didasarkan kepada informasi langit (Devine revelation) yang pastinya tidak diragukan (laa raeba fiih). Tapi fakta-fakta di lapangan sepanjang sejarah peperangan itu membuktikan.
Pembantaian dan genòsida dilakukan kepada bangsa Palestina, khususnya di Gaza, bukan hanya kali ini. Sudah puluhan kali sejak pendudukan tanah mereka 75 tahun silam. Mungkin yang mutakhir dan masih “fresh” di memori adalah pembantaian tahun 2002, 2005, 2008, 2012, hingga dua tahun lalu. Pada setiap serangan dan pembunuhan massal itu ribuan warga Palestina yang syahid.
Belum lagi pembunuhan harian yang terjadi di kota-kota lain Palestina, termasuk di Jenin dan Ramallah. Dalam enam bulan terakhir sebelum pembalasan 7 Oktober itu diberitakan tidak kurang dari 600 warga Palestina yang ditembak mati. Belum lagi yang ditangkap dan/atau terluka dalam setiap insiden yang terjadi.
Namun catatan sejarah mengatakan bahwa setiap kali serangan penjajah dengan pembunuhan massal (mass murder) dan genosida itu terjadi bangsa Palestina bukannya semakin lemah, apalagi menyerah. Mereka justeru semakin kuat dan kokoh untuk memenangkan pertarungan itu.
Mungkin secara fisik mereka mengalami banyak pengorbanan. Hingga saat ini misalnya tidak kurang dari 9000 warga sipil yang meninggal. 4000 ribu di antaranya adalah anak-anak. Rumah-rumah mereka, fasilitas umum termasuk sekolah dan rumah sakit, bahkan rumah ibadah (Masjid dan gereja) diluluh lantakkan) oleh tentara penjajah. Belum lagi puluhan ribu yang luka dengan pengobatan yang sangat minim.
Namun semua itu ternyata tidak menjadikan mereka para pejuang itu lemah. Apalagi menyerah. Mereka justeru semakin kuat secara mental dan tekad dalam perjuangan. Persis seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an: “mereka tidak bertambah kecual dalam keimanan dan keislaman”.
Dalam dunia saat ini peperangan dan akibatnya, kemenangan atau kekalahan, tidak bisa sekedar dinilai dari interaksi fisik persenjataan. Peperangan itu memiliki sudut (angles) yang sangat ragam. Benar ada sudut kontak fisik (physical clash). Tapi pada sisi lain ada aspek diplomasi, politik, ekonomi, persepsi atau imej dan seterusnya. Melihat peperangan ini dan menyimpulkan siapa yang kalah dan siapa yang menang, harusnya dilihat pada semua sudutnya.
Pembantaian dan genòsida dilakukan kepada bangsa Palestina, khususnya di Gaza, bukan hanya kali ini. Sudah puluhan kali sejak pendudukan tanah mereka 75 tahun silam. Mungkin yang mutakhir dan masih “fresh” di memori adalah pembantaian tahun 2002, 2005, 2008, 2012, hingga dua tahun lalu. Pada setiap serangan dan pembunuhan massal itu ribuan warga Palestina yang syahid.
Belum lagi pembunuhan harian yang terjadi di kota-kota lain Palestina, termasuk di Jenin dan Ramallah. Dalam enam bulan terakhir sebelum pembalasan 7 Oktober itu diberitakan tidak kurang dari 600 warga Palestina yang ditembak mati. Belum lagi yang ditangkap dan/atau terluka dalam setiap insiden yang terjadi.
Namun catatan sejarah mengatakan bahwa setiap kali serangan penjajah dengan pembunuhan massal (mass murder) dan genosida itu terjadi bangsa Palestina bukannya semakin lemah, apalagi menyerah. Mereka justeru semakin kuat dan kokoh untuk memenangkan pertarungan itu.
Mungkin secara fisik mereka mengalami banyak pengorbanan. Hingga saat ini misalnya tidak kurang dari 9000 warga sipil yang meninggal. 4000 ribu di antaranya adalah anak-anak. Rumah-rumah mereka, fasilitas umum termasuk sekolah dan rumah sakit, bahkan rumah ibadah (Masjid dan gereja) diluluh lantakkan) oleh tentara penjajah. Belum lagi puluhan ribu yang luka dengan pengobatan yang sangat minim.
Namun semua itu ternyata tidak menjadikan mereka para pejuang itu lemah. Apalagi menyerah. Mereka justeru semakin kuat secara mental dan tekad dalam perjuangan. Persis seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an: “mereka tidak bertambah kecual dalam keimanan dan keislaman”.
Dalam dunia saat ini peperangan dan akibatnya, kemenangan atau kekalahan, tidak bisa sekedar dinilai dari interaksi fisik persenjataan. Peperangan itu memiliki sudut (angles) yang sangat ragam. Benar ada sudut kontak fisik (physical clash). Tapi pada sisi lain ada aspek diplomasi, politik, ekonomi, persepsi atau imej dan seterusnya. Melihat peperangan ini dan menyimpulkan siapa yang kalah dan siapa yang menang, harusnya dilihat pada semua sudutnya.