LANGIT7.ID-Jakarta; Besarnya jumlah penduduk Muslim di Indonesia ternyata belum sejalan dengan pemanfaatan layanan keuangan syariah. BCA Syariah mengungkapkan bahwa meski hampir 90 persen masyarakat Indonesia beragama Islam, tingkat penggunaan produk dan layanan keuangan syariah masih berada di angka yang relatif rendah.
Dalam kegiatan kolaborasi BCA Syariah bersama Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senior Vice President Dana, Jasa dan Komunikasi Pemasaran BCA Syariah Mia Rahma Amalia menyampaikan bahwa data terbaru tahun 2025 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah baru mencapai 43 persen. Sementara tingkat inklusi atau masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan syariah masih sekitar 13 persen.
"Kalau kita lihat dengan angka 80 sampai 90%, rasanya ini angkanya jauh sekali ya. Tapi, kami melihatnya, tim kami di perbankan syariah, melihatnya sebagai suatu kesempatan atau opportunity portal yang sangat baik sekali untuk kita bisa menelurkan satu inisiatif terkait dengan perbankan syariah sehingga kita bisa mengenalkan prinsip-prinsip syariah yang baik ini kepada masyarakat Indonesia yang lebih luas lagi," ujarnya di terashutan Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pertumbuhan yang sangat besar bagi industri keuangan syariah nasional. BCA Syariah melihat tantangan tersebut sebagai peluang untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan nilai-nilai yang terkandung dalam sistem keuangan syariah.
Ia menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengenal lebih jauh layanan keuangan syariah. Sebagian menganggap produk syariah hanya ditujukan bagi kelompok tertentu, sementara sebagian lainnya masih terkendala pemahaman terhadap istilah dan konsep yang digunakan.
"Yang kita inginkan adalah lebih banyak lagi masyarakat Indonesia tahu tentang kebaikan syariah atau kita ingin meng-campaign-kan satu gerakan inklusivitas bahwa solusi syariah yang bagus ini bukan hanya buat segelintir orang tapi buat semua masyarakat Indonesia bahkan non muslim sekalipun bisa menikmati kebaikan dari prinsip-prinsip syariah ini, sebenarnya," katanya.
Upaya memperluas inklusi keuangan syariah tersebut juga mendapat dukungan dari Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf BPMI Masjid Istiqlal. Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf BPMI, Dr. Budi Utomo, Lc., MA, menilai pemanfaatan teknologi digital menjadi langkah penting untuk mendekatkan layanan zakat dan wakaf kepada masyarakat.
(Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf BPMI, Dr. Budi Utomo, Lc., MA. Dok: Langit7.id)Menurut Budi Utomo, transformasi digital tidak hanya diperlukan dalam sektor bisnis dan layanan publik, tetapi juga dalam pengelolaan instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat dan wakaf.
"Karena eranya era digital jangan sampai hal yang penting, jadi kalau orang hal-hal lain sudah mengakses digital, seharusnya hal yang menjadi kebutuhan umat dalam hal ini implementasi zakat dan wakaf juga harus bisa dikelola dengan baik memanfaatkan teknologi yang ada di era digital ini," ujarnya.
Ia menyambut baik kerja sama yang terjalin antara BCA Syariah dan Masjid Istiqlal. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan zakat dan wakaf di Indonesia.
"Kami dari Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf Masjid Istiqlal sangat bergembira dengan adanya kerjasama ini," kata Budi Utomo.
Kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada program jangka pendek. Budi Utomo mengungkapkan bahwa kedua pihak telah menyiapkan rencana pengembangan layanan yang lebih luas, termasuk kehadiran fasilitas bersama di kawasan Masjid Istiqlal.
"Di situ nanti insya Allah Zawa Istiqlal dan BCA Syariah akan bersinergi membuat kantor bersama," ujarnya saat menjelaskan rencana pemanfaatan Menara Masjid Istiqlal sebagai pusat kolaborasi kedua lembaga.
Sementara itu, BCA Syariah terus mendorong pemanfaatan layanan digital sebagai bagian dari kampanye Sahabat Berkahmu yang baru diluncurkan. Salah satu implementasinya adalah penyediaan layanan pembayaran zakat secara digital yang terintegrasi dengan Masjid Istiqlal sehingga masyarakat dapat menunaikan zakat dari mana saja dan kapan saja.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah nasional. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Namun, data yang menunjukkan tingkat inklusi baru mencapai 13 persen menjadi pengingat bahwa edukasi, akses layanan, dan digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu terus didorong oleh berbagai pihak.
(lam)