Ada Pendekatan Proaktif dan Reaktif, Mana yang Harus Diterapkan di Sekolah?
Muhajirin
Kamis, 16 November 2023 - 23:00 WIB
Pakar pendidikan Islam, Mohammad Fauzil Adhim
Pakar pendidikan Islam, Mohammad Fauzil Adhim, menjelaskan terkait pendekatan yang dilakukan institusi sekolah dalam menyelesaikan masalah siswa.
Dia menejlaskan, ada pendekatan proaktif dan pendekatan reaktif. Sekolah yang menggunakan pendekatan reaktif akan banyak disibukkan untuk menghadapi berbagai masalah yang ada pada siswa.
“Waktunya banyak terkuras untuk menghadapi persoalan demi persoalan yang silih berganti. Bullying hanyalah salah satu di antaranya,” kata Fauzil melalui akun resminya, dikutip Kamis (16/11).
Ketika menggunakan pendekatan reaktif, sekolah baru bertindak saat ada masalah. Itu pun kerapkali sebatas agar masalah tidak lagi muncul ke permukaan. Seolah-olah baik-baik saja, padahal ada api dalam sekam.
Hal yang lebih parah, masalah masih ada, bahkan sangat mengkhawatirkan, tetapi pihak sekolah memaksa pihak-pihak yang sedang bermasalah untuk menganggap tidak ada masalah. Padahal masalahnya sangat parah.
“Semisal siswa korban perundungan yang mengalami trauma, hanya diberi dua pilihan, yakni “memaafkan” atau keluar dari sekolah itu. Sebuah proses pendidikan yang amat sangat buruk. Sudah korban, dikorbankan pula akibat sekolah tidak memiliki kemampuan mengatasi masalah,” ujar Fauzil.
Pendekatan reaktif itu melelahkan dan menguras tenaga sekaligus menghambat produktivitas. Standarnya juga rendah. Hal yang dianggap “tidak ada masalah”, hakekatnya masalah itu sendiri.
Dia menejlaskan, ada pendekatan proaktif dan pendekatan reaktif. Sekolah yang menggunakan pendekatan reaktif akan banyak disibukkan untuk menghadapi berbagai masalah yang ada pada siswa.
“Waktunya banyak terkuras untuk menghadapi persoalan demi persoalan yang silih berganti. Bullying hanyalah salah satu di antaranya,” kata Fauzil melalui akun resminya, dikutip Kamis (16/11).
Ketika menggunakan pendekatan reaktif, sekolah baru bertindak saat ada masalah. Itu pun kerapkali sebatas agar masalah tidak lagi muncul ke permukaan. Seolah-olah baik-baik saja, padahal ada api dalam sekam.
Hal yang lebih parah, masalah masih ada, bahkan sangat mengkhawatirkan, tetapi pihak sekolah memaksa pihak-pihak yang sedang bermasalah untuk menganggap tidak ada masalah. Padahal masalahnya sangat parah.
“Semisal siswa korban perundungan yang mengalami trauma, hanya diberi dua pilihan, yakni “memaafkan” atau keluar dari sekolah itu. Sebuah proses pendidikan yang amat sangat buruk. Sudah korban, dikorbankan pula akibat sekolah tidak memiliki kemampuan mengatasi masalah,” ujar Fauzil.
Pendekatan reaktif itu melelahkan dan menguras tenaga sekaligus menghambat produktivitas. Standarnya juga rendah. Hal yang dianggap “tidak ada masalah”, hakekatnya masalah itu sendiri.