home edukasi & pesantren

Entaskan Krisis Minyak, Profesor ITS Dorong Pengoptimalan Batubara

Senin, 08 Januari 2024 - 23:00 WIB
Profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Dra Yulfi Zetra MSc menginovasikan pemanfaatan batubara
Krisis minyak akibat peningkatan penggunaan bahan bakar minyak mendorong adanya produksi sumber daya alternatif. Profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Dra Yulfi Zetra MSc menginovasikan pemanfaatan batubara melalui hilirisasi batubara padat menjadi cair dan sintesis bioaditif pada bahan bakar fosil bersulfur rendah.

Guru Besar Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS tersebut menyebutkan, tingkat impor bahan bakar minyak di Indonesia semakin meningkat. Padahal, sebenarnya Indonesia masih banyak memiliki sumber daya selain minyak bumi. “Salah satu alternatifnya adalah batubara yang dapat diolah hingga memiliki kemiripan sifat dengan minyak bumi,” ungkap Yulfi.

Dia menjelaskan, pengolahan batubara berpotensi menjadi alternatif bahan bakar minyak setelah melalui proses pencairan. Pencairan tersebut merupakan upaya untuk memecah makromolekul batubara padat menjadi cair hingga memiliki rasio hidrogen per karbon yang mendekati minyak fosil.

Setelah proses yang disebut hidrogenasi tersebut, akan diperoleh batubara dengan rasio hidrogen per karbon berkisar 1,2 - 1,8 dari yang semula hanya sebesar 0,3 – 0,9.

Yulfi mengulas proses hidrogenasi dimulai dari mempersiapkan materi yang akan diolah dengan cara menghancurkan batubara hingga menjadi partikel-partikel kecil dengan ukuran 200 mesh atau setara 0,074 milimeter.

Setelahnya, partikel tersebut akan dicampurkan dengan beberapa zat, di antaranya adalah pelarut minyak berat, katalis limonit SH, serta katalis belerang dan gas hidrogen.

Campuran tersebut dimasukkan ke dalam reaktor pencairan batubara dan akan direaksikan pada suhu 450 derajat celsius dan tekanan sebesar 120 megapascal. Setelah melewati proses ini selama 60 menit, akan dihasilkan produk batubara yang memiliki rasio hidrogen per karbon yang diharapkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
krisis minyak guru besar its batubara
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya