Unusa Dipercaya YDSF Wujudkan Konsep Pesantren Bersemi di Indonesia
Tim langit 7
Sabtu, 20 Januari 2024 - 17:00 WIB
Unusa dipercaya Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya untuk mengubah pondok pesantren menjadi tempat yang bersih, sehat, dan mandiri.
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dipercaya Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya untuk mengubah pondok pesantren menjadi tempat yang bersih, sehat, dan mandiri.
Hal ini berkat adanya pusat riset kelas dunia di Unusa yang fokus menangani isu kesehatan lingkungan pesantren di Indonesia, pusat riset yang dikenal sebagai Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) Unusa.
CEHP telah memperkenalkan konsep Pesantren Bersemi (bersih, sehat, dan mandiri) yang akan mentransformasi pesantren tradisional menjadi lingkungan yang peduli terhadap kesehatan bersih (sanitasi, air bersih), sehat (PHBS, infrastruktur yang layak dan sehat), dan mandiri (dalam bidang ekonomi).
Hadir dalam kegiatan ini, Pengurus Pondok Pesantren Babus Salam Pamekasan, Wakil Rektor II dan III Unusa, Ketua CEHP Unusa, Ketua Kemenag Pamekasan, tim YDSF, dan kepala Bank BTN Pamekasan beserta undangan sedang memperlihatkan keberhasilan UNU-Water.
Baca juga:Unusa dan Dinkes Surabaya Sukseskan Imunisasi SUB PIN Polio
Konsep ini pertama kali diajukan oleh Achmad Syafiuddin melalui CEHP Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, yang telah menggambarkan roadmap pesantren Bersemi.
Proses transformasi pesantren tradisional melibatkan empat tahap, yakni (i) penyediaan air bersih, (ii) penyediaan sarana yang layak, (iii) perubahan perilaku PHBS dan manajemen air bersih, dan (iv) terciptanya pesantrenpreneur.
Hal ini berkat adanya pusat riset kelas dunia di Unusa yang fokus menangani isu kesehatan lingkungan pesantren di Indonesia, pusat riset yang dikenal sebagai Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) Unusa.
CEHP telah memperkenalkan konsep Pesantren Bersemi (bersih, sehat, dan mandiri) yang akan mentransformasi pesantren tradisional menjadi lingkungan yang peduli terhadap kesehatan bersih (sanitasi, air bersih), sehat (PHBS, infrastruktur yang layak dan sehat), dan mandiri (dalam bidang ekonomi).
Hadir dalam kegiatan ini, Pengurus Pondok Pesantren Babus Salam Pamekasan, Wakil Rektor II dan III Unusa, Ketua CEHP Unusa, Ketua Kemenag Pamekasan, tim YDSF, dan kepala Bank BTN Pamekasan beserta undangan sedang memperlihatkan keberhasilan UNU-Water.
Baca juga:Unusa dan Dinkes Surabaya Sukseskan Imunisasi SUB PIN Polio
Konsep ini pertama kali diajukan oleh Achmad Syafiuddin melalui CEHP Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, yang telah menggambarkan roadmap pesantren Bersemi.
Proses transformasi pesantren tradisional melibatkan empat tahap, yakni (i) penyediaan air bersih, (ii) penyediaan sarana yang layak, (iii) perubahan perilaku PHBS dan manajemen air bersih, dan (iv) terciptanya pesantrenpreneur.