Lulus Cepat dengan IPK Sempurna, Wisudawan Unesa Mohammad Turi Dapat Tawaran Beasiswa Doktor
Tim langit 7
Jum'at, 09 Februari 2024 - 11:00 WIB
Mohammad Turi adalah ahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 4.00 dalam gelaran Wisuda ke-109.Foto/ist
Mohammad Turi mempersembahkan kado terindah untuk keluarga besar pada hari wisudanya. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 4.00 dalam gelaran Wisuda ke-109, baru-baru ini.
Pria yang akrab disapa Turi itu menceritakan perjuangannya bisa lulus cepat 1,4 tahun dengan capain terbaik program magister (S-2) prodi Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK).
Dia merupakan putra dari kalangan yang berkecukupan. Apalagi, sejak usia tiga bulan dia sudah ditinggal orang tua dan besar dalam asuhan sang nenek. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya harus berjuang agar bisa kuliah, dari sarjana hingga magister.
Agar bisa memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah, Turi dipaksa membagi waktu kuliah, belajar dan mencari pemasukan dengan aktif mengikuti event olahraga regional hingga nasional.
“Selama berkuliah, saya juga diajak dosen-dosen untuk garap riset dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Dari situ saya juga bisa belajar dan menambah pengalaman," bebernya.
Baca juga:Kisah Bapak dan Anak Wisuda Bareng di UIN Walisongo Semarang
Kendati banyak kegiatan, Turi tidak mudah menyerah. Justru dia memanfaatkan waktu sempitnya untuk mendalami mata kuliah dan ilmu keprodiannya. "Kadang saya merasa capek bangat, tetapi mau bagaimana lagi, ada impian yang harus saya capai," tukasnya.
Pria yang akrab disapa Turi itu menceritakan perjuangannya bisa lulus cepat 1,4 tahun dengan capain terbaik program magister (S-2) prodi Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK).
Dia merupakan putra dari kalangan yang berkecukupan. Apalagi, sejak usia tiga bulan dia sudah ditinggal orang tua dan besar dalam asuhan sang nenek. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya harus berjuang agar bisa kuliah, dari sarjana hingga magister.
Agar bisa memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah, Turi dipaksa membagi waktu kuliah, belajar dan mencari pemasukan dengan aktif mengikuti event olahraga regional hingga nasional.
“Selama berkuliah, saya juga diajak dosen-dosen untuk garap riset dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Dari situ saya juga bisa belajar dan menambah pengalaman," bebernya.
Baca juga:Kisah Bapak dan Anak Wisuda Bareng di UIN Walisongo Semarang
Kendati banyak kegiatan, Turi tidak mudah menyerah. Justru dia memanfaatkan waktu sempitnya untuk mendalami mata kuliah dan ilmu keprodiannya. "Kadang saya merasa capek bangat, tetapi mau bagaimana lagi, ada impian yang harus saya capai," tukasnya.