Pandangan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Tentang Childfree
Redaksi
Sabtu, 04 September 2021 - 06:59 WIB
Ulama besar Ahlussunnah wal Jamaaah asal Mekah Allahyarham Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki (foto: istimewa)
Perbincangan seputar childfree atau keputusan pasangan suami istri untuk tidak memiliki anak masih hangat jadi perbincangan publik. Berbagai alasan dikemukakan oleh kalangan yang setuju adanya childfree. Di antaranya alasan tak ingin menyakiti sang calon anak kelak, terlebih dengan kondisi dunia yang tidak ideal.
Jauh sebelum childfree hangat jadi perbincangan di Negeri ini. Ulama besar asal Mekah yang jadi rujukan dan guru banyak ulama di Indonesia, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki telah mengemukakan pandangannya tentang childfree.
Baca Juga: Mengenal Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Guru Para Ulama
Dikutip dari Sanad Media, Sayyid Muhammad memilah antara pembatasan keturunan karena kondisi personal pasangan suami istri, dan pembatasan keturunan karena dijadikan sebagai prinsip hidup semacam ideologi yang dikampanyekan agar orang lain untuk mengikutinya.
Pertama, pembatasan keturunan dalam konteks personal pasangan suami istri atau dharûrah syakhsiyyah karena alasan-alasan tertentu. Sayyid Muhammad tidak mempermasalahkannya, karena hal itu merupakan pilihan hidup yang diserahkan kepada masing-masing pasangan suami-istri. Mereka lebih tahu kondisi rumah tangga sebenarnya. Apakah pasangan tersebut ingin menunda punya anak dahulu di awal-awal pernikahannya karena alasan tertentu; apakah mereka merencanakan punya anak dua, satu, atau bahkan memilih tidak punya anak sama sekali. Semuanya tidak masalah, selama berangkat dari motif atau niat yang dapat diterima oleh fikih Islam.
Pada masa Nabi Muhammad SAW ada pula sahabat yang punya keinginan tidak punya anak dan diizinkan olehnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadits:
Jauh sebelum childfree hangat jadi perbincangan di Negeri ini. Ulama besar asal Mekah yang jadi rujukan dan guru banyak ulama di Indonesia, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki telah mengemukakan pandangannya tentang childfree.
Baca Juga: Mengenal Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Guru Para Ulama
Dikutip dari Sanad Media, Sayyid Muhammad memilah antara pembatasan keturunan karena kondisi personal pasangan suami istri, dan pembatasan keturunan karena dijadikan sebagai prinsip hidup semacam ideologi yang dikampanyekan agar orang lain untuk mengikutinya.
Pertama, pembatasan keturunan dalam konteks personal pasangan suami istri atau dharûrah syakhsiyyah karena alasan-alasan tertentu. Sayyid Muhammad tidak mempermasalahkannya, karena hal itu merupakan pilihan hidup yang diserahkan kepada masing-masing pasangan suami-istri. Mereka lebih tahu kondisi rumah tangga sebenarnya. Apakah pasangan tersebut ingin menunda punya anak dahulu di awal-awal pernikahannya karena alasan tertentu; apakah mereka merencanakan punya anak dua, satu, atau bahkan memilih tidak punya anak sama sekali. Semuanya tidak masalah, selama berangkat dari motif atau niat yang dapat diterima oleh fikih Islam.
Pada masa Nabi Muhammad SAW ada pula sahabat yang punya keinginan tidak punya anak dan diizinkan olehnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadits: