Tiga Gelar Haji ala Abdul Mu’ti: Haji Abidin, Mansur hingga Wahyu
Tim langit 7
Selasa, 30 April 2024 - 07:00 WIB
Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Muti
Umat Islam dalam waktu dekat juga akan merayakan Idul Adha yang di dalamnya terdapat ritual ibadah haji. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berseloroh bahwa selain ada istilah haji mabrur secara teologis, juga ada istilah-istilah lain untuk menyebut orang yang berangkat haji dari sisi pembiayaan.
Pertama, kata Mu’ti, ada Haji Abidin atau haji atas biaya dinas, yaitu orang-orang yang berhasil berangkat ke Tanah Suci dengan biaya dinas atau bisa juga bonus dari institusi tempatnya bekerja.
Kedua ada Haji Mansur, atau haji yang halamannya kena gusur yang bisa jadi disebabkan oleh sebuah proyek pemerintah atau yang lainnya, kemudian si pemilik halaman itu mendapat uang ganti untung yang bisa digunakan untuk berangkat haji.
Baca juga:28 Ribu Jamaah Ramaikan Launching Senam Haji Indonesia
Ketiga ada Haji Wahyu, atau orang yang berangkat haji karena sawahnya payu (red; laku). Mereka adalah orang-orang yang memiliki aset berupa sawah, kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk berangkat haji.
“Itu proses saja cara Allah memanggil saja. Tapi giliran sudah beribadah insyaallah semuanya mabrur,” ungkap Abdul Mu’ti pada (27/4) dalam Halal Bihalal yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng di Kendal.
Pertama, kata Mu’ti, ada Haji Abidin atau haji atas biaya dinas, yaitu orang-orang yang berhasil berangkat ke Tanah Suci dengan biaya dinas atau bisa juga bonus dari institusi tempatnya bekerja.
Kedua ada Haji Mansur, atau haji yang halamannya kena gusur yang bisa jadi disebabkan oleh sebuah proyek pemerintah atau yang lainnya, kemudian si pemilik halaman itu mendapat uang ganti untung yang bisa digunakan untuk berangkat haji.
Baca juga:28 Ribu Jamaah Ramaikan Launching Senam Haji Indonesia
Ketiga ada Haji Wahyu, atau orang yang berangkat haji karena sawahnya payu (red; laku). Mereka adalah orang-orang yang memiliki aset berupa sawah, kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk berangkat haji.
“Itu proses saja cara Allah memanggil saja. Tapi giliran sudah beribadah insyaallah semuanya mabrur,” ungkap Abdul Mu’ti pada (27/4) dalam Halal Bihalal yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng di Kendal.