Sempat Gangguan Jiwa karena Kecanduan Game, Anas Hafal Al-Qur'an 30 Juz
Tim langit 7
Selasa, 14 Mei 2024 - 11:00 WIB
Anas bersama pengasuh padepokan Ibnu Rusydi Ustadz Agus Maarif, Ahad (12/5/2024) di Jombang, Jawa Timur. Foto: NU Online
Anas terlihat begitu semangat saat diajak ngobrol tentang Al-Qur'an dan berbagai permasalahan agama lainnya. Sekilas tidak terlihat bahwa pemuda asal Kediri ini pernah mengalami gangguan kejiwaan dampak kecanduan game online.
Anas merupakan salah satu santri dari Padepokan Tahfidhul Qur'an Ibnu Rusydi di Dusun Nglaban, Desa Bendet, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia mulai diantar oleh keluarganya pada 2019 lalu.
Padepokan Tahfidhul Qur'an Ibnu Rusydi merupakan instansi pendidikan agama yang santrinya tidak hanya orang normal saja, tapi juga menerima santri dengan kategori Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).
"Saya sudah lima tahun di sini, dulu tidak tahu kalau ke sini itu mondok, tahunya ke sini diajak jalan-jalan sebelum beli handphone baru," jelas Anas dikutip dari NU Online.
Baca juga:Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya Bangun Perpustakaan Khofifah
Anas menceritakan, awal kedatangannya ke Pesantren Ibnu Rusydi karena saat itu jarang pulang ke rumah. Dunianya terbalik, sebab terlalu asyik main game di warnet. Ketika itu, jenis game yang ia mainkan adalah point blank. Saking asyiknya, Anas akan mengamuk dan melawan orang tuanya ketika dilarang main game dan tidak diberikan uang saku.
Kecanduan game membuat kehidupan Anas tidak teratur. Yang ada di pikirannya hanya main game. Ketergantungan ini berpengaruh pada kejiwaannya yang tidak stabil. Bahkan bisa dikategorikan ODGJ.
Anas merupakan salah satu santri dari Padepokan Tahfidhul Qur'an Ibnu Rusydi di Dusun Nglaban, Desa Bendet, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia mulai diantar oleh keluarganya pada 2019 lalu.
Padepokan Tahfidhul Qur'an Ibnu Rusydi merupakan instansi pendidikan agama yang santrinya tidak hanya orang normal saja, tapi juga menerima santri dengan kategori Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).
"Saya sudah lima tahun di sini, dulu tidak tahu kalau ke sini itu mondok, tahunya ke sini diajak jalan-jalan sebelum beli handphone baru," jelas Anas dikutip dari NU Online.
Baca juga:Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya Bangun Perpustakaan Khofifah
Anas menceritakan, awal kedatangannya ke Pesantren Ibnu Rusydi karena saat itu jarang pulang ke rumah. Dunianya terbalik, sebab terlalu asyik main game di warnet. Ketika itu, jenis game yang ia mainkan adalah point blank. Saking asyiknya, Anas akan mengamuk dan melawan orang tuanya ketika dilarang main game dan tidak diberikan uang saku.
Kecanduan game membuat kehidupan Anas tidak teratur. Yang ada di pikirannya hanya main game. Ketergantungan ini berpengaruh pada kejiwaannya yang tidak stabil. Bahkan bisa dikategorikan ODGJ.