Pemda Sorong Jajaki Wisata Budaya Paus Sperma di Raja Ampat
Garry Talentedo Kesawa
Senin, 06 September 2021 - 20:28 WIB
ilustrasi Paus Sperma yang terdampar di Pantai Aceh, beberapa waktu lalu. (foto: iStock)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong menjajaki kemungkinan dibukanya wisata budaya Paus Sperma di Raja Ampat. Hal ini dilakukan setelah belum lama ada kejadian mamalia laut terdampar dari jenis Paus Sperma di Pulau Gam.
Paus sperma ini terbawa arus hingga terdampar ke perairan Arborek yang merupakan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Raja Ampat.
Berbeda dengan penanganan mamalia lainnya, LPSPL Sorong bersama pemerintah daerah setempat memilih untuk merelokasi bangkai paus di satu lokasi dan membiarkannya membusuk secara alami. Tulang-tulang paus sperma tersebut akan digunakan untuk kepentingan wisata budaya dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Arborek.
"Setelah menangani mamalia laut tersebut, kami bersama aparat setempat dan warga Kampung Arborek, muncul keinginan untuk memanfaatkan bangkai paus tersebut sebagai sarana edukasi dan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Arborek," kata Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto, seperti dikutip Senin (6/9).
Baca juga:KKP Temukan Megafauna Langka Terdampar di NTT
"Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan warga sehingga pihaknya memilih lokasi yang jauh dari pemukiman dan aktivitas warga. Bangkai paus ini akan terurai dalam waktu sekitar 8 bulan," terangnya.
Selama pandemi Covid-19, Santoso menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penanganan terhadap mamalia laut terdampar sebanyak 40 kasus. Sementara di wilayah Papua Barat terdapat 11 kasus.
Paus sperma ini terbawa arus hingga terdampar ke perairan Arborek yang merupakan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Raja Ampat.
Berbeda dengan penanganan mamalia lainnya, LPSPL Sorong bersama pemerintah daerah setempat memilih untuk merelokasi bangkai paus di satu lokasi dan membiarkannya membusuk secara alami. Tulang-tulang paus sperma tersebut akan digunakan untuk kepentingan wisata budaya dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Arborek.
"Setelah menangani mamalia laut tersebut, kami bersama aparat setempat dan warga Kampung Arborek, muncul keinginan untuk memanfaatkan bangkai paus tersebut sebagai sarana edukasi dan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Arborek," kata Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto, seperti dikutip Senin (6/9).
Baca juga:KKP Temukan Megafauna Langka Terdampar di NTT
"Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan warga sehingga pihaknya memilih lokasi yang jauh dari pemukiman dan aktivitas warga. Bangkai paus ini akan terurai dalam waktu sekitar 8 bulan," terangnya.
Selama pandemi Covid-19, Santoso menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penanganan terhadap mamalia laut terdampar sebanyak 40 kasus. Sementara di wilayah Papua Barat terdapat 11 kasus.