Wasil Habib Al-Abid, Mahasiswa UIN Palembang Ingin Praktikkan Kemampuan Berbahasa Arab Selama Berhaji
Tim langit 7
Rabu, 29 Mei 2024 - 10:00 WIB
Wasil Habib Al-Abid (21), mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang
Namanya Wasil Habib Al-Abid (21). Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini tampak bahagia saat menginjakkan kakinya di Tanah Suci.
Kepada petugas, ia mengaku ingin mempraktikkan kemampuan berbahasa Arabnya selama berada di Arab Saudi. "Pasti mau praktik berbahasa Arab. Meskipun di sini terkenal dengan 'amiahnya (bahasa pasaran atau tidak baku)," ujar Wasil di Madinah.
"Saya ingin menerapkan belajar mandiri praktik berbahasa Arab saat bertemu petugas atau saat menawar belanja nanti," sambungnya.
Baca juga:UKT Batal Naik, Nadiem Minta PTN Rangkul Calon Mahasiswa Baru yang Terdampak
Mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini bercerita, ia berangkat mendampingi ibunya. Dengan tergesa dan mendorong dua koper di tangannya, ia berlari mengejar bus beserta rombongan yang telah dulu sampai di paviliun bandara.
"Ibu udah duluan, kebetulan. Tadi tuh terlambat untuk nyari-nyari koper, biasanya posisi koper kan random," terang Wasil sambil menyeka peluh di keringatnya karena cuaca panas hari itu.
Wasil bercerita, perasaannya tak karuan saat memasuki Kota Nabi. Banyak hal yang ia khawatirkan, saat mendampingi ibunya nanti. Sebagai jemaah haji muda, ia merasa bertanggungjawab juga terhadap jemaah yang lebih tua.
Kepada petugas, ia mengaku ingin mempraktikkan kemampuan berbahasa Arabnya selama berada di Arab Saudi. "Pasti mau praktik berbahasa Arab. Meskipun di sini terkenal dengan 'amiahnya (bahasa pasaran atau tidak baku)," ujar Wasil di Madinah.
"Saya ingin menerapkan belajar mandiri praktik berbahasa Arab saat bertemu petugas atau saat menawar belanja nanti," sambungnya.
Baca juga:UKT Batal Naik, Nadiem Minta PTN Rangkul Calon Mahasiswa Baru yang Terdampak
Mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini bercerita, ia berangkat mendampingi ibunya. Dengan tergesa dan mendorong dua koper di tangannya, ia berlari mengejar bus beserta rombongan yang telah dulu sampai di paviliun bandara.
"Ibu udah duluan, kebetulan. Tadi tuh terlambat untuk nyari-nyari koper, biasanya posisi koper kan random," terang Wasil sambil menyeka peluh di keringatnya karena cuaca panas hari itu.
Wasil bercerita, perasaannya tak karuan saat memasuki Kota Nabi. Banyak hal yang ia khawatirkan, saat mendampingi ibunya nanti. Sebagai jemaah haji muda, ia merasa bertanggungjawab juga terhadap jemaah yang lebih tua.