Gus Dur, Penguasa yang Nomor Satukan Ulama di Atas Jabatan Dunia
Muhajirin
Selasa, 07 September 2021 - 18:02 WIB
Gus Dur ketika mencium tangan KH Turaichan Adjhuri Kudus, disaksikan KH Syaroni Ahmadi (kiri) dan Alwi Shihab Foto: Ist
KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) merupakan sosok Presiden RI yang dikenal dengan keputusan-keputusan yang bikin geleng-geleng kepala, penuh humor, sekaligus Guru Bangsa.
Hari ini, 7 September adalah satu dari dua tanggal kelahiran Gus Dur. Kisah mengenai itu bisa dibaca di sini
Kemudian di sisi lain, Gus Dur menjadi potret penguasa yang sangat mencintai para ulama. “Sebagai seorang yang lahir dari kultur santri, Gus Dur mencintai para ulama,” kata intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Gus Rijal Mumazziq Z, kepada LANGIT7.ID, Selasa (7/9/2021).
Dua hari setelah dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur tak mengumpulkan para politisi dan pengusaha untuk melakukan deal politik dan bagi-bagi jatah kursi. Ia justru sowan ke KH Abdullah Salam, Kajen, Pati.
Mbah Dullah adalah seorang ulama sepuh asketis, hafal Qur’an, rendah hati, dengan wajah bersih bercahaya. “Gus Dur datang melalui pintu belakang, melewati jemuran dan dapur ndalem, lalu membungkukkan tubuh mencium tangan Mbah Dullah,” tutur Gus Rijal.
Gus Dur mengulang tradisi raja Nusantara yang meletakkan resi dan pandhita sebagai pengontrol kekuasaan. Dia mengulang kembali ritus tatakala raja yang baru dilantik meletakkan mahkota, berbaju putih, dan menanjaki bukit tanpa alas kaki semata-mata sowan meminta nasehat kepada para pertapa agung
Baca Juga :
Hari ini, 7 September adalah satu dari dua tanggal kelahiran Gus Dur. Kisah mengenai itu bisa dibaca di sini
Kemudian di sisi lain, Gus Dur menjadi potret penguasa yang sangat mencintai para ulama. “Sebagai seorang yang lahir dari kultur santri, Gus Dur mencintai para ulama,” kata intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Gus Rijal Mumazziq Z, kepada LANGIT7.ID, Selasa (7/9/2021).
Dua hari setelah dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur tak mengumpulkan para politisi dan pengusaha untuk melakukan deal politik dan bagi-bagi jatah kursi. Ia justru sowan ke KH Abdullah Salam, Kajen, Pati.
Mbah Dullah adalah seorang ulama sepuh asketis, hafal Qur’an, rendah hati, dengan wajah bersih bercahaya. “Gus Dur datang melalui pintu belakang, melewati jemuran dan dapur ndalem, lalu membungkukkan tubuh mencium tangan Mbah Dullah,” tutur Gus Rijal.
Gus Dur mengulang tradisi raja Nusantara yang meletakkan resi dan pandhita sebagai pengontrol kekuasaan. Dia mengulang kembali ritus tatakala raja yang baru dilantik meletakkan mahkota, berbaju putih, dan menanjaki bukit tanpa alas kaki semata-mata sowan meminta nasehat kepada para pertapa agung
Baca Juga :