Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home sosok muslim detail berita

Gus Dur, Penguasa yang Nomor Satukan Ulama di Atas Jabatan Dunia

Muhajirin Selasa, 07 September 2021 - 18:02 WIB
Gus Dur, Penguasa yang Nomor Satukan Ulama di Atas Jabatan Dunia
Gus Dur ketika mencium tangan KH Turaichan Adjhuri Kudus, disaksikan KH Syaroni Ahmadi (kiri) dan Alwi Shihab Foto: Ist
LANGIT7.ID, Jakarta - KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) merupakan sosok Presiden RI yang dikenal dengan keputusan-keputusan yang bikin geleng-geleng kepala, penuh humor, sekaligus Guru Bangsa.

Hari ini, 7 September adalah satu dari dua tanggal kelahiran Gus Dur. Kisah mengenai itu bisa dibaca di sini

Kemudian di sisi lain, Gus Dur menjadi potret penguasa yang sangat mencintai para ulama. “Sebagai seorang yang lahir dari kultur santri, Gus Dur mencintai para ulama,” kata intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Gus Rijal Mumazziq Z, kepada LANGIT7.ID, Selasa (7/9/2021).

Dua hari setelah dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur tak mengumpulkan para politisi dan pengusaha untuk melakukan deal politik dan bagi-bagi jatah kursi. Ia justru sowan ke KH Abdullah Salam, Kajen, Pati.

Mbah Dullah adalah seorang ulama sepuh asketis, hafal Qur’an, rendah hati, dengan wajah bersih bercahaya. “Gus Dur datang melalui pintu belakang, melewati jemuran dan dapur ndalem, lalu membungkukkan tubuh mencium tangan Mbah Dullah,” tutur Gus Rijal.

Gus Dur mengulang tradisi raja Nusantara yang meletakkan resi dan pandhita sebagai pengontrol kekuasaan. Dia mengulang kembali ritus tatakala raja yang baru dilantik meletakkan mahkota, berbaju putih, dan menanjaki bukit tanpa alas kaki semata-mata sowan meminta nasehat kepada para pertapa agung

Baca Juga :

Kocak, Begini Humor Gus Dur soal Isu SARA di Ambon

Tiga Jurus Kunci Gus Dur dalam Bersikap dan Bernegara


“Gus Dur juga mengulang tradisi para sultan yang membungkuk di hadapan para ulama, yang melepas jubah kebesarannya semata-mata untuk meminta kucuran doa keberkahan dari mereka,” ucap Gus Rijal.

Saat melakukan kunjungan ke Nigeria, Gus Dur merombak aturan protokoler kepresidenan dengan cara sowan terlebih dahulu ke seorang ulama di Kano, sebuah kota besar di negeri penggila sepakbola itu. Ia berprinsip, berkunjung ke ulama terlebih dulu, baru ke presidennya.

Saat ke Mesir, Gus Dur juga melakukan hal serupa. Sebelum bertemu dengan Presiden Husni Mubarak, ia terlebih dulu menghadap ulama Universitas Al-Azhar. Setelah sowan ke ulama, barulah kunjungan kenegaraan dilakukan.

“Yang juga saya suka dari Gus Dur adalah gesturnya saat sowan para ulama. Silahkan searching foto Gus Dur saat sowan KH Abdullah Salam, tatkala takzim mencium tangan KH Turaichan Adjhuri, saat menunduk mencium tangan KH Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), bersimpuh saat sowan ke Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid,” kata Gus Rijal.

Gus Dur di hadapan para ulama menunjukkan gestur spontan kerendahan hati sebagai seorang santri yang sedang berhadapan dengan guru. Kecintaan beliau kepada para ulama, baik yang masih hidup maupun sudah wafat, tak perlu diragukan lagi.

“Dalam beberapa perjalanan ke sebuah kota menggunakan mobil, beliau sering tiba-tiba meminta sopir agar membelokkan kendaraan menuju makam seorang ulama, baik makam yang sudah masyhur, maupun makam kuno yang tampak tak terawat,” ucap Gus Rijal.

Menurut Gus Rijal, soal kemampuan eskavasi arkeologis-spiritual, Gus Dur hanya bisa disaingi Gus Miek alias KH Chamim Djazuli, perintis jamaah Semaan Kitab (Mantab) dan Dzikrul Ghafili atau Jantiko Mantab. Keduanya tahu makam-makam keramat para wali, baik yang sudah masyhur maupun yang tak dikenali.

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)