LANGIT7.ID, Jakarta - Satu tokoh Indonesia. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai seorang presiden yang memiliki dedikasi tinggi terhadap penegakan hak asai manusia (HAM) dan pembela kaum minoritas di Indonesia. Hari ini delapan puluh satu tahun lalu ia dilahirkan di Jombang, Jawa Timur.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Rijal Mumazziq Z, menjelaskan, terdapat tiga jurus kunci yang digunakan Gus Dur dalam bersikap yaitu Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan. Dalam aspek keislaman, Gus Dur adalah seorang pemikir yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama.
Maka itu, Gus Dur kental dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan fikrah nahdliyyah seperti fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat) yang senantiasa bersikap tasamuh (toleran), tawazun (seimbang-proporsional), dan i’tidal (adil).
Kemudian fikrah tasamuhiyyah alias pola pikira toleran, fikrah ishlahiyah (pola pikir reformatif), fikrah tathawwuriyah (pola pikir dinamis), dan fikrah manhajiyyah (pola pikir metodologis sesuai dengan manhaj yang telah ditetapkan NU).
Dalam aspek keindonesiaan, Gus Dur, menurut lelaki yang akrab disapa Gus Rijal ini, mengikuti kontur sikap NU yakni NKRI sebagai bentuk final benegara, Pancasila sebagai dasar negara, serta konsensus politik ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-setanah air).
Gus Dur meletakkan persaudaraan sebagai sikap yang jelas di tengah pluralism dan multikulturalisme Indonesia.
Baca Juga :
Kisah Gus Dur yang Punya 2 Versi Tanggal Lahir, Salah Satunya Hari Ini
Kumpulan Joke Kocak Gus Dur, Lumayan Hilangkan Stres dan Ketegangan PandemiDalam aspek kemanusiaan, Gus Dur bertindak sebagai Guru Bangsa. Sebagai Guru Bangsa di sini yakni selalu mendengarkan dan membantu curhatan masyarakat yang terzalimi, memberi perlindungan kepada minoritas yang terpinggirkan.
Tak hanya itu ia selalu menyambut orang-orang berkunjung ke kediamannya sekadar minta didoakan, minta nama untuk anak, curhat dagangan yang sepi, mengeluhkan rumah tangga, utang, hingga minta uang saku.
“Sebagai Guru Bangsa, Gus Dur meletakkan aspek pluralitas dan multikulturalisme sebagai bagian tak terpisahkan bangsa ini, "kata Gus Rijal.
"Gus Dur, menurutnya, memberi contoh yang tak terucapkan, menjaga kerukunan antarumat beragama, dan secara tersirat memberi contoh, "kami telah melindungi saudara seiman kalian di sini, jadi tolong lindungi saudara-saudara kami yang berada di situ, di wilayah nonmuslim,” kata Gus Rijal kepada
LANGIT7.ID, Selasa (7/9/2021).
(arp)